Dan ketika orang aceh mengatakan jawa penjajah tidaklah bermakna
semuanya orang jawa, namun sebagai manusia kita sering mengkultuskan
sesuatu karena kesan pertamanya.
Orang aceh kenal orang Jawa ya
Sukarno, Sukarno di mata orang Jawa adalah sosok manusia tangguh dengan
kelebihan – kelebihan yang dia miliki, sukarno adalah sosok manusia
agung dan kuburannya pun kerap di keramatkan oleh sebagian orang di
Pulau jawa, namun bagaimana Sukarno dimata kakek2 kami orang Aceh ?
Sukarno itu hanya penipu, penjahat, air mata buaya, pengemis dll.
pasti kakek2 Aceh yang pernah dekat dengan sukarno punya alasan
tersendiri ketika mereka mencap sukarno seperti itu. Penipu karena
membohongi dan mengebiri orang aceh dan tanah aceh yang sudah melahirkan
indonesia, penjahat karena berani menipu, hal yang tak seharusnya di
lakukan oleh orang terpandang dan
terhormat, hal yang tidak mungkin di lakukan oleh kakek2 Aceh yang
islamnya kuat. Air mata buaya, sukarno pandai memperliahatkan mimik
kesedihan waktu meminta Rakyat Aceh menyumbang 4 pesat untuk indonesia,
barang super mewah di jamannya yang sangat mustahil bisa di beli orang
jawa bahkan sampai sekarang ini, SBY masih menggunakan pesawat carteran,
baru di usulakan membeli pesawat kepresidenan berbulan – bulan di
protes dan di demo di jawa sana ingat ! baru 1 pesawat, tapi kakek Aceh
menyumbang 4 peasawat sekaligus dalam rentang waktu yang tidak lama,
kakek aceh rela menyumbang untuk bangsa yang belakangan menjadi
pembantai anak cucunya, pemerkosa para cucu – cucu perempuannya, Pembuat
Janda anak-anak Perempuannya, lewat Serdadu – serdadu Kujangnya,
Kopassus, Kostrad kiriman pemerintah jawakarta mereka lebih sadis dari
tentara israel yang membunuh anak2 dan perempuan palestina.
Kebohongan kerajaan Jawa yang paling besar adalah fakta kemerdekaan
indonesia ini sendiri, tidak pernah ada dalam buku sejarah manapun yang
tulis orang jawa yang mengisahkan Aceh sebagai “the frontal for
indonesia freedom”, seolah indonesia merdeka karena Jendral Sudirman dan
pahlawan 1o november di surabaya, seolah indonesia merdeka karena
seranga Fajarnya suharto di jogja, seolah hanya karena bandung lautan
api, tak pernah di tuliskan bahwa pada Agresi belanda ke ll 1948,
indonesia sudah takluk, tak ada lagi indonesia..... indonesia sudah jadi
negara hayalan... punah.. munsnah.....
Hanya Aceh satu
satunya...... satu – satunya daerah yang tidak di jajah Belanda lagi,
Belanda mengakui Aceh berdaulat, sebagai kerajaan yang sah dan memiliki
Raja dan Kerajaan, namun kakek Aceh terlalu baik, ketika PBB
mempertanyakan apakah masih ada wialayh indonesia yang tidak di kuasai
belanda lagi sebagai syarat perundingan ??
status aceh di
pertanyakan, apakah aceh berdiri sendiri atau bergabung dalam wilayah
indonesia ?? Belanda tidak lagi masuk aceh tahun 1948 karena mereka
mengakui Aceh bukan indonesia, Sukarno – Hatta lewat Syarifudin Prawira
Negara melakukan komunikasi dengan Abu Daud, sayangnya Abu terlalu
baik, sehingga Abu memutuskan dengan berkonsultasi dengan beberapa orang
yang dipercayainya tanpa melibatkan pejuang dan Rakyat Aceh secara
keseluruhan untuk mengatakan Aceh bagian indonesia, padahal ini adalah
keputusan yang salah dan menjadi bibit sakit hati Rakyat Aceh kepada Abu
sampai hari ini. Ternyata karena keptusan yang salah inilah sehingga
setiap generasi berganti Aceh selalu menuntut kedaulatannnya yang sudah
di berikan Cuma-Cuma minta di hargai oleh pemerintah jawakarta.
andaikan saja............. oh andaikan, ketika itu abu daud mengatakan
Aceh berdiri sendiri dan “indonesia say hello good bye” maka tak ada
lagi yang namanya NKRI, Indonesia, tidak ada kopassus yang datang
membantai cucu Aceh, membuat kuburan massal pembantaian, the killing
field, tak ada bukit TengKorak, tak ada kampung janda di Ulee Gle Pidie
Jaya. Ini adalah luka sejarah yang tidak pernah kunjung terobati oleh
silih bergantinya kekuasaan di pulau jawa.
Lihatlah ! betapa besar
pengorbanan kakek Aceh, maka wajar jika sampai hari ini orang Aceh men
cap suku jawa sebagai penjajah, semuanya karena kesan yang di
perlihatkan oleh sukarno DAN peimimpin2nya sampai hari ini dalam
memndang Aceh.
bagi mereka Aceh hanya suku pemberontak, padahal yang sebenarnya mereka lupa diri, tidak tahu malu dan melupakan sejarah.
Ini hanya secuil kisah pengkhianatan indonesia yang di kuasai orang jawa terhadap orang dan tanah aceh
Minggu, 31 Maret 2013
ACEH SELALU DI TIPU OLEH PEJABAT DI JAKARTA
Kontroversial pengesahan Qanun Bendera dan Lambang Aceh kian
santer terdengar. Lambang dan Bendera sebagai Indentitas Aceh yang telah
disetujui dan termaktub di dalam MoU Helsinki terancam dianulir Pusat.
Untuk kesekian kalinya, Akankan Aceh Tertipu kembali?
PERCAYA atau tidak, sejak dulu Aceh atau orang Aceh cukup dikenal dengan tipu muslihat atau taktik untuk mewujudkan sebuah tujuan, baik tujuan politik perperangan demi perjuangan melawan kolonialisme. Bahkan Belanda mengakui akan kehebatan orang Aceh dalam hal ini. Salah satu cerita yang paling termasyhur adalah ketika masa penjajahan, pejuang Aceh bernama Teuku Umar berhasil menipu kolonial Belanda.
Awalnya ia bersedia berunding dengan bekerja sama membantu menaklukkan perlawanan masyarakat Aceh. Tapi akhirnya Belanda malah dikelabui oleh suami Tjoet Nyak Dien ini. Ratusan pucuk senjata berhasil dicuri dan digunakan kembali untuk melawan Belanda.
PERCAYA atau tidak, sejak dulu Aceh atau orang Aceh cukup dikenal dengan tipu muslihat atau taktik untuk mewujudkan sebuah tujuan, baik tujuan politik perperangan demi perjuangan melawan kolonialisme. Bahkan Belanda mengakui akan kehebatan orang Aceh dalam hal ini. Salah satu cerita yang paling termasyhur adalah ketika masa penjajahan, pejuang Aceh bernama Teuku Umar berhasil menipu kolonial Belanda.
Awalnya ia bersedia berunding dengan bekerja sama membantu menaklukkan perlawanan masyarakat Aceh. Tapi akhirnya Belanda malah dikelabui oleh suami Tjoet Nyak Dien ini. Ratusan pucuk senjata berhasil dicuri dan digunakan kembali untuk melawan Belanda.
Selain cerita tersebut, sebenarnya masih banyak tipu-tipu masyarakat
Aceh yang ternukil dalam sejumlah hikayat. Menurut sejumlah kalangan,
“tipu Aceh” ini dapat diartikan sebagai “tipu” untuk kepentingan
pribadi, di sisi lain cara tersebut juga merupakan “taktik” untuk
mencapai sebuah tujuan politis dan perjuangan membela bangsa Aceh
melawan segala bentuk kolonialisme.
Meski tipu-tipu Aceh ini sangat dikenal bahkan sempat menjadi bagian
dari catatan seorang pengarang asal Jawa Barat dalam buku berjudul “Aceh di Mata Urang Sunda”,
nyatanya di balik itu sejak masa kemerdekaan hingga kini, Aceh lah yang
selalu tertipu atau dibohongi oleh pemerintah Pusat Jakarta. Situasi
ini mulai terlihat sejak masa kepemimpinan Presiden Soekarno.
Sejak itu
Aceh mulai tertipu dengan janji-janji semu. Pada masa pemerintahan
selanjutnya bahkan lebih parah dari sekadar ditipu, Aceh bahkan
“dibungkam”. Mirisnya hingga kini Aceh masih saja tertipu. Faktanya,
ketika Pemerintah Republik Indonesia dan GAM menandatangani MoU
Helsinki, sejumlah poin MoU tersebut (termasuk Bendera dan Lambang Aceh)
belum sepenuhnya dijalankan oleh pemerintah pusat hingga hari ini.
Sejak itu
Aceh mulai tertipu dengan janji-janji semu. Pada masa pemerintahan
selanjutnya bahkan lebih parah dari sekadar ditipu, Aceh bahkan
“dibungkam”. Mirisnya hingga kini Aceh masih saja tertipu. Faktanya,
ketika Pemerintah Republik Indonesia dan GAM menandatangani MoU
Helsinki, sejumlah poin MoU tersebut (termasuk Bendera dan Lambang Aceh)
belum sepenuhnya dijalankan oleh pemerintah pusat hingga hari ini.
Dengan segudang alasan, Aceh harus tetap menunggu sejumlah poin MoU
untuk direalisasikan. Bahkan baru-baru ini, Aceh kembali hampir tertipu
ketika Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) kawasan bebas Sabang--yang
cukup lama dinanti--dianulir oleh Kementerian Keuangan. Beberapa pasal
yang telah disepakati, kembali dianulir oleh Menteri Keuangan, dengan
alasan ada kesalahan ‘komunikasi” di jajarannya. Kesalahan seperti apa? Wallahu’alam.
Untung saja
saat itu Wakil Gubernur Aceh segera menyampaikan hal tersebut kepada
Presiden SBY dalam sebuah momen Pramuka di Jakarta. Jika tidak, aturan
tersebut dapat menjadi tipu Jakarta berikutnya. Itu sebabnya
reaksi keras datang. Aceh tentu tak ingin tertipu lagi, sebab dulu
pelabuhan bebas juga sempat dihentikan oleh Presiden Soeharto dengan
sebab-musabab yang kecil, misalnya disebut maraknya penyeludupan.
Menurut Sejarawan Aceh, Drs Rusdi Sufi, berdasarkan sejarah Aceh, di balik tipu-tipu Aceh,
cukup banyak tipu-tipu Jakarta terhadap Aceh. Berdasarkan pengalaman
tersebut, ke depan para pemimpin maupun generasi Aceh harus berhati-hati
dan jangan mudah terbuai dengan janji semu Jakarta. Intinya, masyarakat
harus tetap bersatu agar tidak mudah dikelabui pihak Jakarta
(pemerintah Pusat).
Sementara menurut Pemerhati Sejarah Aceh, Ramli A Dally, teknik tipu yang dilancarkan Jakarta terhadap Aceh hingga saat ini bisa saja telah di-setting dan menjadi bagian dari teori kekuasaan. Dengan kata lain, Aceh sejak
dulu dijadikan kawasan tertentu (cadangan kekuasaan) untuk mencapai
sebuah tujuan. Diibaratkan sebuah ular, katanya, meski kepalanya
dilepas, namun ekornya tetap dipegang bahkan diikat dengan kuat. Untuk itu masyarakt Aceh harus tetap waspada terhadap tipu-tipu Jakarta.
Berdasarkan sejumlah sumber yang diperoleh dari Pusat Dokumentasi dan
Informasi Aceh, banyak catatan tentang perlakuan Pusat terhadap Aceh
yang cukup memiriskan hati dan menyebabkan masyarakat Aceh dirugikan.
Penipuan terhadap Aceh sebenarnya telah terjadi sejak zaman kemerdekaan
atau masa revolusi kemerdekaan.
Kala
itu Daud Beureueh meminta agar khusus kawasan Aceh diberlakuan syariat
Islam. Soekarno menyetujuinya. Aceh menyatakan setia kepada republik,
namun Daud meminta agar kesepakatan tersebut dapat berbentuk hitam di
atas putih (tertulus). Namun hal itu tak pernah terjadi. Soekarno dengan berlinang air mata bahkan bersumpah akan mewujudkan hal itu. Dia mengaku tak perlu bukti tertulis karena Daud Beureueh merupakan orang yang dihormatinya sehingga tak mungkin dikhianati. “Itulah tipu pertama yang terjadi terhadap Aceh. Presiden saat itu tak bersedia membuat perjanjian tertulis,” kata Sejarawan Rusdi Sufi.
Dulu pada tahun 1948, saat masa revolusi kemerdekaan atau setelah
Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, seluruh kawasan Indonesia
kembali diduduki oleh Belanda, kecuali Aceh. Awalnya, setelah Belanda
menyerah kepada sekutu, pada September tahun 1948 tentera sekutu masuk
ke Indonesia untuk menerima penyerahan Jepang kepada Indonesia. Namun
saat itu penguasa sipil Belanda yakni NICA (Nederlandsch Indie Civil
Administratie) menyusup masuk dan kembali menduduki Indonesia. Bahkan
Presiden Soekarno ditangkap saat itu. Satu-satu kawasan yang tidak
dimasuki Belanda adalah Aceh.
Saat itulah petinggi-petinggi RI datang ke Aceh yang tetap aman. Bahkan
uang Indonesia (Oeang Republik Indonesia) pernah dicetak di Aceh.
Selanjutnya pada 7 Mei 1949, ditandatanganilah kesepakatan yang
dinamakan Perjanjian Rum-Royen. Berdasarkan perjanjian tersebut, tahanan
politik dibebaskan, Belanda menyetujui adanya Republik Indonesia
sebagai bagian dari Republik Indonesi Serikat, selanjutnya akan
diselenggarakan Konfrensi Meja Bundar antara Belanda dengan Indonesia
setelah Pemerintah Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta. Saat itulah
Soekarno dibebaskan. Setelah dibebaskan, ia datang ke Aceh bersama
sejumlah rombongan.
Kedatangannya ke Aceh melalui lapangan terbang di Lhoknga disambut
sangat meriah oleh masyarakat. Selanjutnya diadakan pertemuan dengan
para tokoh dan saudagar Aceh di Hotel Aceh yang kini hanya tinggal
tapaknya saja, yakni kawasan samping Masjid Raya Baiturrahman, Banda
Aceh. Saat itu Aceh merupakan sebuah Keresidenan Aceh yang dipimpin oleh
T. Daudsyah setelah menggantikan T. Nyak Arif. Soekarno juga bertemu
dengan Daud Beureueh yang merupakan Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan
Tanah Karo.
Langganan:
Postingan (Atom)
