Minggu, 31 Maret 2013

SUKARNO DI MATA ORANG ACEH

Dan ketika orang aceh mengatakan jawa penjajah tidaklah bermakna semuanya orang jawa, namun sebagai manusia kita sering mengkultuskan sesuatu karena kesan pertamanya.
Orang aceh kenal orang Jawa ya Sukarno, Sukarno di mata orang Jawa adalah sosok manusia tangguh dengan kelebihan – kelebihan yang dia miliki, sukarno adalah sosok manusia agung dan kuburannya pun kerap di keramatkan oleh sebagian orang di Pulau jawa, namun bagaimana Sukarno dimata kakek2 kami orang Aceh ?
Sukarno itu hanya penipu, penjahat, air mata buaya, pengemis dll.
pasti kakek2 Aceh yang pernah dekat dengan sukarno punya alasan tersendiri ketika mereka mencap sukarno seperti itu. Penipu karena membohongi dan mengebiri orang aceh dan tanah aceh yang sudah melahirkan indonesia, penjahat karena berani menipu, hal yang tak seharusnya di lakukan oleh orang terpandang dan terhormat, hal yang tidak mungkin di lakukan oleh kakek2 Aceh yang islamnya kuat. Air mata buaya, sukarno pandai memperliahatkan mimik kesedihan waktu meminta Rakyat Aceh menyumbang 4 pesat untuk indonesia, barang super mewah di jamannya yang sangat mustahil bisa di beli orang jawa bahkan sampai sekarang ini, SBY masih menggunakan pesawat carteran, baru di usulakan membeli pesawat kepresidenan berbulan – bulan di protes dan di demo di jawa sana ingat ! baru 1 pesawat, tapi kakek Aceh menyumbang 4 peasawat sekaligus dalam rentang waktu yang tidak lama, kakek aceh rela menyumbang untuk bangsa yang belakangan menjadi pembantai anak cucunya, pemerkosa para cucu – cucu perempuannya, Pembuat Janda anak-anak Perempuannya, lewat Serdadu – serdadu Kujangnya, Kopassus, Kostrad kiriman pemerintah jawakarta mereka lebih sadis dari tentara israel yang membunuh anak2 dan perempuan palestina.
Kebohongan kerajaan Jawa yang paling besar adalah fakta kemerdekaan indonesia ini sendiri, tidak pernah ada dalam buku sejarah manapun yang tulis orang jawa yang mengisahkan Aceh sebagai “the frontal for indonesia freedom”, seolah indonesia merdeka karena Jendral Sudirman dan pahlawan 1o november di surabaya, seolah indonesia merdeka karena seranga Fajarnya suharto di jogja, seolah hanya karena bandung lautan api, tak pernah di tuliskan bahwa pada Agresi belanda ke ll 1948, indonesia sudah takluk, tak ada lagi indonesia..... indonesia sudah jadi negara hayalan... punah.. munsnah.....
Hanya Aceh satu satunya...... satu – satunya daerah yang tidak di jajah Belanda lagi, Belanda mengakui Aceh berdaulat, sebagai kerajaan yang sah dan memiliki Raja dan Kerajaan, namun kakek Aceh terlalu baik, ketika PBB mempertanyakan apakah masih ada wialayh indonesia yang tidak di kuasai belanda lagi sebagai syarat perundingan ??
status aceh di pertanyakan, apakah aceh berdiri sendiri atau bergabung dalam wilayah indonesia ?? Belanda tidak lagi masuk aceh tahun 1948 karena mereka mengakui Aceh bukan indonesia, Sukarno – Hatta lewat Syarifudin Prawira Negara melakukan komunikasi dengan Abu Daud, sayangnya Abu terlalu baik, sehingga Abu memutuskan dengan berkonsultasi dengan beberapa orang yang dipercayainya tanpa melibatkan pejuang dan Rakyat Aceh secara keseluruhan untuk mengatakan Aceh bagian indonesia, padahal ini adalah keputusan yang salah dan menjadi bibit sakit hati Rakyat Aceh kepada Abu sampai hari ini. Ternyata karena keptusan yang salah inilah sehingga setiap generasi berganti Aceh selalu menuntut kedaulatannnya yang sudah di berikan Cuma-Cuma minta di hargai oleh pemerintah jawakarta.
andaikan saja............. oh andaikan, ketika itu abu daud mengatakan Aceh berdiri sendiri dan “indonesia say hello good bye” maka tak ada lagi yang namanya NKRI, Indonesia, tidak ada kopassus yang datang membantai cucu Aceh, membuat kuburan massal pembantaian, the killing field, tak ada bukit TengKorak, tak ada kampung janda di Ulee Gle Pidie Jaya. Ini adalah luka sejarah yang tidak pernah kunjung terobati oleh silih bergantinya kekuasaan di pulau jawa.
Lihatlah ! betapa besar pengorbanan kakek Aceh, maka wajar jika sampai hari ini orang Aceh men cap suku jawa sebagai penjajah, semuanya karena kesan yang di perlihatkan oleh sukarno DAN peimimpin2nya sampai hari ini dalam memndang Aceh.
bagi mereka Aceh hanya suku pemberontak, padahal yang sebenarnya mereka lupa diri, tidak tahu malu dan melupakan sejarah.
Ini hanya secuil kisah pengkhianatan indonesia yang di kuasai orang jawa terhadap orang dan tanah aceh

ACEH SELALU DI TIPU OLEH PEJABAT DI JAKARTA

Kontroversial pengesahan Qanun Bendera dan Lambang Aceh kian santer terdengar. Lambang dan Bendera sebagai Indentitas Aceh yang telah disetujui dan termaktub di dalam MoU Helsinki terancam dianulir Pusat. Untuk kesekian kalinya, Akankan Aceh Tertipu kembali?

PERCAYA atau tidak, sejak dulu Aceh atau orang Aceh cukup dikenal dengan tipu muslihat atau taktik untuk mewujudkan sebuah tujuan, baik tujuan politik perperangan demi perjuangan melawan kolonialisme. Bahkan Belanda mengakui akan kehebatan orang Aceh dalam hal ini. Salah satu cerita yang paling termasyhur adalah ketika masa penjajahan, pejuang Aceh bernama Teuku Umar berhasil menipu kolonial Belanda.

Awalnya ia bersedia berunding dengan bekerja sama membantu menaklukkan perlawanan masyarakat Aceh. Tapi akhirnya Belanda malah dikelabui oleh suami Tjoet Nyak Dien ini. Ratusan pucuk senjata berhasil dicuri dan digunakan kembali untuk melawan Belanda.
Selain cerita tersebut, sebenarnya masih banyak tipu-tipu masyarakat Aceh yang ternukil dalam sejumlah hikayat. Menurut sejumlah kalangan, “tipu Aceh” ini dapat diartikan sebagai “tipu” untuk kepentingan pribadi, di sisi lain cara tersebut juga merupakan “taktik” untuk mencapai sebuah tujuan politis dan perjuangan membela bangsa Aceh melawan segala bentuk kolonialisme.
Meski tipu-tipu Aceh ini sangat dikenal bahkan sempat menjadi bagian dari catatan seorang pengarang asal Jawa Barat dalam buku berjudul “Aceh di Mata Urang Sunda”, nyatanya di balik itu sejak masa kemerdekaan hingga kini, Aceh lah yang selalu tertipu atau dibohongi oleh pemerintah Pusat Jakarta. Situasi ini mulai terlihat sejak masa kepemimpinan Presiden Soekarno.

Sejak itu Aceh mulai tertipu dengan janji-janji semu. Pada masa pemerintahan selanjutnya bahkan lebih parah dari sekadar ditipu, Aceh bahkan “dibungkam”. Mirisnya hingga kini Aceh masih saja tertipu. Faktanya, ketika Pemerintah Republik Indonesia dan GAM menandatangani MoU Helsinki, sejumlah poin MoU tersebut (termasuk Bendera dan Lambang Aceh) belum sepenuhnya dijalankan oleh pemerintah pusat hingga hari ini.
Dengan segudang alasan, Aceh harus tetap menunggu sejumlah poin MoU untuk direalisasikan. Bahkan baru-baru ini, Aceh kembali hampir tertipu ketika Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) kawasan bebas Sabang--yang cukup lama dinanti--dianulir oleh Kementerian Keuangan. Beberapa pasal yang telah disepakati, kembali dianulir oleh Menteri Keuangan, dengan alasan ada kesalahan ‘komunikasi” di jajarannya. Kesalahan seperti apa? Wallahu’alam.
Untung saja saat itu Wakil Gubernur Aceh segera menyampaikan hal tersebut kepada Presiden SBY dalam sebuah momen Pramuka di Jakarta. Jika tidak, aturan tersebut dapat menjadi tipu Jakarta berikutnya. Itu sebabnya reaksi keras datang. Aceh tentu tak ingin tertipu lagi, sebab dulu pelabuhan bebas juga sempat dihentikan oleh Presiden Soeharto dengan sebab-musabab yang kecil, misalnya disebut maraknya penyeludupan.
Menurut Sejarawan Aceh, Drs Rusdi Sufi, berdasarkan sejarah Aceh, di balik tipu-tipu Aceh, cukup banyak tipu-tipu Jakarta terhadap Aceh. Berdasarkan pengalaman tersebut, ke depan para pemimpin maupun generasi Aceh harus berhati-hati dan jangan mudah terbuai dengan janji semu Jakarta. Intinya, masyarakat harus tetap bersatu agar tidak mudah dikelabui pihak Jakarta (pemerintah Pusat).
Sementara menurut Pemerhati Sejarah Aceh, Ramli A Dally, teknik tipu yang dilancarkan Jakarta terhadap Aceh hingga saat ini bisa saja telah di-setting dan menjadi bagian dari teori kekuasaan. Dengan kata lain, Aceh sejak dulu dijadikan kawasan tertentu (cadangan kekuasaan) untuk mencapai sebuah tujuan. Diibaratkan sebuah ular, katanya, meski kepalanya dilepas, namun ekornya tetap dipegang bahkan diikat dengan kuat. Untuk itu masyarakt Aceh harus tetap waspada terhadap tipu-tipu Jakarta.

Berdasarkan sejumlah sumber yang diperoleh dari Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, banyak catatan tentang perlakuan Pusat terhadap Aceh yang cukup memiriskan hati dan menyebabkan masyarakat Aceh dirugikan. Penipuan terhadap Aceh sebenarnya telah terjadi sejak zaman kemerdekaan atau masa revolusi kemerdekaan.
Dulu pada tahun 1948, saat masa revolusi kemerdekaan atau setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, seluruh kawasan Indonesia kembali diduduki oleh Belanda, kecuali Aceh. Awalnya, setelah Belanda menyerah kepada sekutu, pada September tahun 1948 tentera sekutu masuk ke Indonesia untuk menerima penyerahan Jepang kepada Indonesia. Namun saat itu penguasa sipil Belanda yakni NICA (Nederlandsch Indie Civil Administratie) menyusup masuk dan kembali menduduki Indonesia. Bahkan Presiden Soekarno ditangkap saat itu. Satu-satu kawasan yang tidak dimasuki Belanda adalah Aceh.

Saat itulah petinggi-petinggi RI datang ke Aceh yang tetap aman. Bahkan uang Indonesia (Oeang Republik Indonesia) pernah dicetak di Aceh. Selanjutnya pada 7 Mei 1949, ditandatanganilah kesepakatan yang dinamakan Perjanjian Rum-Royen. Berdasarkan perjanjian tersebut, tahanan politik dibebaskan, Belanda menyetujui adanya Republik Indonesia sebagai bagian dari Republik Indonesi Serikat, selanjutnya akan diselenggarakan Konfrensi Meja Bundar antara Belanda dengan Indonesia setelah Pemerintah Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta. Saat itulah Soekarno dibebaskan. Setelah dibebaskan, ia datang ke Aceh bersama sejumlah rombongan.
Kedatangannya ke Aceh melalui lapangan terbang di Lhoknga disambut sangat meriah oleh masyarakat. Selanjutnya diadakan pertemuan dengan para tokoh dan saudagar Aceh di Hotel Aceh yang kini hanya tinggal tapaknya saja, yakni kawasan samping Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Saat itu Aceh merupakan sebuah Keresidenan Aceh yang dipimpin oleh T. Daudsyah setelah menggantikan T. Nyak Arif. Soekarno juga bertemu dengan Daud Beureueh yang merupakan Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo.
Kala itu Daud Beureueh meminta agar khusus kawasan Aceh diberlakuan syariat Islam. Soekarno menyetujuinya. Aceh menyatakan setia kepada republik, namun Daud meminta agar kesepakatan tersebut dapat berbentuk hitam di atas putih (tertulus). Namun hal itu tak pernah terjadi. Soekarno dengan berlinang air mata bahkan bersumpah akan mewujudkan hal itu. Dia mengaku tak perlu bukti tertulis karena Daud Beureueh merupakan orang yang dihormatinya sehingga tak mungkin dikhianati. “Itulah tipu pertama yang terjadi terhadap Aceh. Presiden saat itu tak bersedia membuat perjanjian tertulis,”  kata Sejarawan Rusdi Sufi.