Rabu, 19 Juni 2013

CARA TAFSIR AL-QUR'AN

tafsir qur'an otodidak
Ada riwayat shahih dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, beliau melewati seorang lelaki yang sedang mengajarkan orang-orang Al Qur’an. Beliau berkata:
أتعرف الناسخ والمنسوخ ؟ قال : لا ، قال : هلكت وأهلكت
“Apakah engkau sudah paham nasikh dan mansukh? Lelaki tadi berkata: ‘Saya belum paham’. Ali berkata: ‘Sungguh engkau ini binasa dan membuat orang lain binasa’“
Sebelum anda ingin manafsirkan al qur’an kuasai dulu 15 bidang ilmu berikut :
berikut ilmu-ilmu yang harus dikuasai
  1. Ilmu Lughat (filologi), yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata al Quran. Mujahid rah.a. berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka tidak layak baginya berkomentar tentang ayat-ayat al Quran tanpa mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang lughat tidaklah cukup karena kadangkala satu kata mengandung berbagai arti. Jika mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Bisa jadi kata itu mempunyai arti dan maksud yang berbeda.
  2. Ilmu Nahwu (tata bahasa). Sangat penting mengetahui ilmu Nahwu, karena sedikit saja I’rab (bacaan akhir kata) berubah akan mengubah arti perkataan itu. Sedangkan pengetahuan tentang I’rab hanya didapat dalam ilmu Nahwu.
  3. Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata). Mengetahui Ilmu sharaf sangat penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya. Ibnu Faris berkata, “Jika seseorang tidak mempunyai ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak hal.” Dalam Ujubatut Tafsir, Syaikh Zamakhsyari rah.a. menulis bahwa ada seseorang yang menerjemahkan ayat al Quran yang berbunyi:“(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami panggil setiap umat dengan pemimpinya. “(Qs. Al Isra [17]:71) Karena ketidaktahuannya tentang ilmu sharaf, ia menerjemahkan ayat itu seperti ini:“pada hari ketika manusia dipanggil dengan ibu-ibu mereka.” Ia mengira bahwa kata ‘imaam’ (pemimpin) yang merupakan bentuk mufrad (tunggal) adalah bentuk jamak dari kata ‘um’ (ibu). Jika ia memahami ilmu sharaf, tidak mungkin akan mengartikan ‘imaam’ sebagai ibu-ibu.
  4. Imu Isytiqaq (akar kata). Mengetahui ilmu isytiqaq sangatlah penting. Dengan ilmu ini dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata ‘masih’ berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakkan tangan yang basah ke atas suatu benda, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti ukuran.
  5. Ilmu Ma’ani. Ilmu ini sangat penting di ketahui, karena dengan ilmu ini susunan kalimat dapat di ketahui dengan melihat maknanya.
  6. Ilmu Bayaan. Yaitu ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.
  7. Ilmu Badi’, yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu di atas juga di sebut sebagai cabang ilmu balaghah yang sangat penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Al Quran adalah mukjizat yang agung, maka dengan ilmu-ilmu di atas, kemukjizatan al Quran dapat di ketahui.
  8. Ilmu Qira’at. Ilmu ini sangat penting dipelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat di antara makna-makna suatu kata.
  9. Ilmu Aqa’id. Ilmu yang sangat penting di pelajari ini mempelajari dasar-dasar keimanan, kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak mungkin diperuntukkan bagi Allah swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu, seperti ayat:“Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Qs. Al Faht 48]:10)
  10. Ushu l Fiqih. Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting, karena dengan ilmu ini kita dapat mengambil dalil dan menggali hokum dari suatu ayat.
  11. Ilmu Asbabun-Nuzul. Yaitu ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat al Quran. Dengan mengetahui sebab-sebab turunnya, maka maksud suatu ayat mudah di pahami. Karena kadangkala maksud suatu ayat itu bergantung pada asbabun nuzul-nya.
  12. Ilmu Nasikh Mansukh. Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hokum uang sudah di hapus dan hokum yang masih tetap berlaku.
  13. Ilmu Fiqih. Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hokum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.
  14. Ilmu Hadist. Ilmu untuk mengetahui hadist-hadist yang menafsirkan ayat-ayat al Quran.
  15. Ilmu Wahbi. Ilmu khusus yang di berikan Allah kepada hamba-nya yang istimewa, sebagaimana sabda Nabi Saw..,,“Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui.” Juga sebagaimana disebutkan dalam riwayat, bahwa Ali r.a. pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah rasulullah telah memberimu suatu ilmu atau nasihat khusus yang tidak di berikan kepada orang lain?” Maka ia menjawab, “Demi Allah, demi Yang menciptakan Surga dan jiwa. Aku tidak memiliki sesuatu yang khusus kecuali pemahaman al Quran yang Allah berikan kepada hamba-Nya.” Ibnu Abi Dunya berkata, “Ilmu al Quran dan pengetahuan yang didapat darinya seperti lautan yang tak bertepi.
Ilmu-ilmu yang telah diterangkan di atas adalah alat bagi para mufassir al Quran. Seseorang yang tidak memiliki ilmu-ilmu tersebut lalu menfsirkan al Quran, berarti ia telah menafsirkannya menurut pendapatnya sendiri, yang larangannya telah di sebutkan dalam banyak hadist. Para sahabat telah memperoleh ilmu bahasa Arab secara turun temurun, dan ilmu lainnya mereka dapatkan melalui cahaya Nubuwwah.
Iman Suyuthi rah.a. berkata, “Mungkin kalian berpendapat bahwa ilmu Wahbi itu berada di luar kemampuan manusia. Padahal tidak demikian, karena Allah sendiri telah menunjukkan caranya, misalnya dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki dan tidak mencintai dunia.”
Tertulis dalam Kimia’us Sa’aadah bahwa ada tiga orang yang tidak akan mampu menafsirkan al Quran:
(1) Orang yang tidak memahami bahasa Arab.
(2) Orang yang berbuat dosa besar atau ahli bid’ah, karena perbuatan itu akan membuat hatinya menjadi gelap dan menutupi pemahamannya terhadap al Quran.
(3) Orang yang dalam aqidahnya hanya mengakui makna zhahir nash. Jika ia membaca ayat-ayat al Quran yang tidak sesuai dengan pikirannya (logikanya), maka ia akan gelisah. Orang seperti ini tidak akan mampu memahami al Quran dengan benar.
“Ya Allah, lindungi kami dari mereka”
Catatan kaki:
saudaraku/(i), Seiman saya hanya mengingatkan saja, lebih bagus kita untuk intropeksi diri dari pada mengiktui debat kusir yang tidak karuan, belajar Ngaji bagi yang belum bisa mengaji, perbanyak shalat bagi yang tidak pernah shalat, yang berilmu tetaplah seperti PADI (semakin berisi semakin menunduk) jangan jadi orang yang sok tahu, sok pinter mengerti semuanya tentang islam begitupun sebaliknya dengan orang-orang orang2 non muslim “LEBIH BAGUS KITA DISIBUKKAN UNTUK EVALUASI DIRI
DARIPADA KITA DISIBUKKAN DENGAN URUSAN ORANG LAIN”. karena Ilmu bukan untuk di perdebatkan!!!
سْــــــــــــــــــــمِ اﷲِارَّحْمَنِ ارَّحِي
”Wahai orang-orang kafir,Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah.Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al-Kafirun).
jangan asal menafsirkan al qur’an oke..
memo:
Ibnu Mas’ud r.a. berkata , “jika kita ingin memperoleh ilmu, maka pikirkan dan renungkanlah makna-makna al Quran, karena di dalamnya terkandung ilmu orang-orang dahulu dan sekarang.”
Source: Indra Ahmad Al katiri

Sabtu, 20 April 2013

BAHAN UJIAN MODELING DI BP3IP JAKARTA

MATA UJIAN
ILMU PELAYARAN
KETERANGAN
BENTUK BUMI, LINGKARANG2 KORDINASI BUMI
1. BUMI adalah suatu benda yg bergerak bebas di ruang angkasa mengelilingi matahari dan bentukx seperti bola serta berputar pd porosx
-JARI2 BUMI=637800 M
-KELILING BUMI=40,000,000 M
2. BUMI mengelilingi matahari satu kali putarang dlm jangka waktu 23 jam,56 menit,4 detik
3. Khatulistiwa(eQuator)adalah lingkaran besar yg merupakan irisan permukaan bumi dengan bidang melalui pust bumi dan tegak lurus pd poros bumi
- Khatulistiwa bumi terbagi menjadi 2 bagian yg sama
- Belahan bumi utara(kutub utara)
- Belahan bumi selatan(kutub selatan)
- Jajar atau paraller adalah lingkaran2 kecil di permukaan bumi yg sejajar dengan
 khatulistiwa
- 66,5* lingkaran kutub utara
- 23,5* lingkranbalik lanser/lingkaran balik mangkara
- M.0* ekuator/khatulistiwa
- 23,5* lingaran balik cprikon/lingkaran balik jadayat
- 66,5* lingkaran kutub selatan
- Poros bumi adalah garis tengah bumi keliling dimana bumi berputar
2. Peta laut adalah data-data atau gambaran yang d berikan untuk keperluan navigasi dengan aman
3. Tanda-tanda dan singkatan-singkatn yang trerdapat pada peta laut satu publikali navigasi

4. Kesalahan pedoman /salah tunjuk adalah sudut yg d bentuk antara utara sejati dengan utara pedoman
5. Haluan adalah arah yg d tempuh kpl dlm pelyaran dgn arah antra utara sejati dgn arah utara selatan
6. Penentuan posisi d kpl dpt d lakukandgn cara membaring
7. Alat-alat bantu navgasi
- mercusuar
- gunung
- pulau
- buoy/pelampung
- rambu-rambu
- radio
- isyarat kabut
- kapal suar
8. Penentuan deviasi pedoman magnet
 - data deviasi d dpt pd daftar deviasi d kpl
 - sedangkan nilai deviasi d pengruhi oleh haluan kpl serta besi-besi pd kpl
9. Berlayar dlm pengaruh angin dan arus

  PERALATAN NAVIGASI   
  1.Peralatan yg di gunakan dlm kamar peta
-Mistar jajar             - pensil
-Segitiga                  - penghapus
-Jangka                   - kalkulator
-Lampu
2.Alat untuk menentukan haluan kapal
-Pedoman magnet
-Gyro kompas
3.Alat untuk membaring
-Jangka semat
-Pelurus
-RADAR
-RDF
-sexstan
-kompas
4.Alat untuk menentukan kecepatan kpl
-Topdal tangan
-Topdal mesin
-GPS
-RADAR
5.Alat unttuk menentukan tekanan udara
-Barometer
6.Alat utuk mengukur suhu udara
-Thermometer
7.Alat pengukur tinggi benda angkasa
-Sextan

DINAS JAGA
1.    Memahami sejarah, pengertian dan aturan-aturan P2TL
-P2TL adalah peraturan pencegahan tubrukan d laut
-Berlaku untuk semua kpl di laut bebas dan semua perairan yg saling berhubungan seta dpt di layari oleh kpl laut
2.Tanggung jawab pelaut
-Memperhatikan semua bahaya navigasi dan bahaya tubrukan aturan dpt menyimpang untuk menghindari bahaya tubrukan
3.Tindakan dalam berlayar
-Menghindar
-Merubah haluan
-Mengurangi kecepatan
-Stop mesin
4.Sosok benda/lampu-lampu yg di pakai di kapal
*Sosok benda                    * lampu-lampu
-Diamond                          - merah
-Kerucut                             - hijau
-Silinder                             - putih
-Bola-bola                          - kuning
5.Jaga laut
-Melaksanakan tugas jaga navigasi dan ikut bertanggung jawab atas keselamatan kpl ,                   
- penumpang dan muatannya
-Perlindungan lingkungan laut
-Pengamatan tugas jaga navigasi
6.Jaga pelabuhan
- Memastikan posisi kpl
-Memeriksa pemuatandan pembongkaran
-Memeriksa tali-tali tambat
-Memeriksa alat-alat keselamatan terpasang pada tempatnya
-Melakukan ronda keliling
-Menjaga keamanan pelabuhan

 ISYARAT VISUAL / KOMUNIKASI
1. Komunikasi luar dan dalam
  - komunikasi luar : komunikasi kpl dengan kpl atau dengan pesawat udara
  - komunikasi dalam : komunikasi dalam kpl antara buritan dngan anjungn dan
     Dengan LR
2. Sarana komunikasi dalam : dengan radio
  - sarana komunikasi luar : dengan radio telepon, radio telegrap dan bendera-Bendera isyarat serta lampu-lampu dan benda-     
    benda
3. Pengelompokan isyarat kode international
  - dimaksudkan untuk memberikan cara dan sarana komunikasi/dlm situasi Yg ada hubunganx dengan keselamatan
    pelayaran,khususx bila terdapat kesulitan dan bahaya
4.pemakaian perlengkapan(complement)
  -morse signaling by hand flags
  -fule
  -sound signal water
  -survival craf
  -fire fighting
  -eQuepment
5.definisi2
  -si tertuju/addres =pejabat kepada siapa suara isyarat di alamatkan
  -kelompok/group =1 hurup/lebih
  -kelompok/group =1 angka/lebih
  -kelompok/group =yg tdk terputus yg bersamaan
  -prosedur =ketentuan/aturan yg di buat untuk menyelenggarakan isyarat
  -isyrat prosedur =sebuah isyarat untuk mempermudah isyarat  yg di laksanakan
6.isyarat 1 huruf =di gunakan pd saat keadaan  yg sangat mendesak/penting
  -isyarat 2 huruf  =di gunakan bagi seksi hokum
  -isyarat 3 huruf =di awali dengan huruf M di gunakan bagi seksi medis
7.BENDERA ISYARAT
-bendera ada 40 lembar aturan internasional
-26 bendera hurup
-10 bendera angka
-3 ular2 pengganti
-1 ular kode dan balas
      
OLAH GERAK & pebgendalian kapal
1. Pengertin olah gerak
- cara memindahkan kpl dari tempat posisi semula ke tempat yang di kehendki dengan perhitungan dari            
dalam maupun dari luar
2. Pengaruh kemudi dan baling-baling
 - pengaruh kemudi : ukuran dan bentuk daun  kemudi sangat berpengaruh terhadap olah gerak  dan efektifnya untuk berputar
   kpl
 - Baling-baling : baling-baling sangat berpengaruh dalam olah geak kapal terlebih apabila kapal yang   
   memiliki baling-baling ganda di bandingkan dengan kapal yang memiliki hanya satu baling-baling     
   dimana baling-baling ganda akan lebih mudah mengolah gerak kapal
3. Sandar kiridepan
    - mula-mula dekati dermaga dengan kecepatn seperlunya
    - setelah tiba stop mesin
    - arah haluan membentuk sudut lancip ke dermaga
    - tiba di posisi, kapal menggerakan mesin mundur                        
    - kemudian kirim tali depan setelah itu tali buritan ke dermaga
    - hibob tali tersebut secara bergantian hingga merapat ke dermaga
4. Sandar kanan
    - mula-mula dekati dermaga dengan kecepatan seperlunya
    - usahakan melawan arus, serta sejajar dengan dermaga
    -mesin standby
    - jangkar kiri siap di lego
    - setelah kapal tiba,  stop mesin
    - kapal mendekati dermaga
    - kemudian kirim tali haluan dan buritan ke dermaga
    - hibob tali tersebut bergantian hingga kapal rapat dengan dermaga
5. Bertolak dari dermaga
    - Satu jam sebelumnya nakhoda dan KKM di beri tahu
    - Kemudi telegraf dan suling di coba
    - jam di anjungan dan kamar mesin di sesuikan
    - alat-alat navigasi di fungsikn
    - peta penjelas di siapkan
    - sarat kapal di periksa dan di catat
    - daftar pasang surut di perhatikan
    - tangga pandu di siapkan di bawah angin
    - apabila semua crew kapal/ABK telah siap semua, tangga kapal di naikan
7. Alur pelayaran sempit dan dangkal
    - atur kecepatan kapal seperlunya
    - memperdengrkan bunyi suling
    - tidak saling mendahului
    - apabila berpapasan maka dahulukan kapal yang ikut arus

 METEOROLOGI
1. jenis-jenis alat meteorologi
  - thermometer
  - barometer
  - anemometer
2. *Tekanan udara
 - berat udara diatas suatu permukaan persatuan kapal
    *Angin
 - udara yang bergerak secara horizontal
   * macam-macam angin
   - angin tetap
   - angin periodic
   - angin local
 3.*Awan:
    - terdiri dari butir-butir air atau Kristal-kristal es yang berukran sedemikian kecil yang berada di atmosfer
    *Hujan :
    -butiran-butiran air yang berukuran cukup besar yang jatuh ke permukaan bumi secara lurus/vertikal
4. Informasi cuaca 
    - berita yang menyampaikan masalah keadaan cuaca


PROSEDUR DARURAT
1. Contigency plan
   - suatu perencanaan baik dalam menghadapi keadaan darurat
2. Faktor penyebab keadaan darurat di kapal
    - faktor cuaca
    - faktor keadaan air
    - faktor manusia di atas kapal
3. Prosedur penanggulangan dan penyelamatan terhadap berbagai macam keadaan darurat  kapal
    - Tata cara/pedoman yng harus di ikuti dalam melaksanakan suatau kegiatan untuk menanggulangi kerugian      
       lebih lanjut misal: tubrukan,kebakaran,kandas, dan orang jatuh kelaut
4. prosedur darurat jika kapal kandas
   : stop mesin
   : bunyikan sirine
   : pintu – pintu kedap air di tutup dan ventilasi
   : nakhoda dank km di beri tahu
   : radio stanbay di canel 16
5. prosedur darurat jika kapal tubrukan
   : bunyikan alarm
   : pintu Akedap air di tutup
   : kapal di gerakan utk mengurangi tubrukan
   : nakhoda dan kkm di beri tahu.
  6.Prosedur darurat jika kpl kebakaran
    :bunyikan alarm bahaya
    :menutup pintu palka,kedap air dan ventilasi
    :mencari dan mematikan sumber api
    :nahkoda dan kkm diberi tahu
    :lampu2 di deck dinyalakan
    :posisi kpl di plot dan radio standby di chanel 16
 7.prosedur darurat jika kpl ada orang jatuh ke laut
    :berteriak sekuat mungkin ‘’ada orang jatuh ke laut’’
    :melempar pelampung
    :posisi korban di perhatikan
    :nahkoda/perwira jaga di beritahu
    :usahakan orang jatuh kelaut terhindar dr bahaya benturan kpl dan baling2 kpl
8.komunikasi radio,isyarat dan kemudi darurat :
   -alat untuk menyampaikan berita/keadaan darurat yg di pancarkan dengan gelombang frekuensi
   kemudi darurat :dimana keadaan kemudi di anjungan tidak dapat di pakai/rusak
      
PENANGANAN DAN PENGATURAN MUATAN                                                                            
1.alat bongkar
  -tiang pemuat dengan segala perangkat yg bersangkutan serta Derek yg berfunsi untuk menaikan dan             
   menurunkan muatan dr atas kpl
   contoh :alat bongkar muat
              :blok pengayut
              :Derek pengayut
              :blok muat
              :kait pemuat
              :rip dll
2.derek muat(cargo winch)
  :Derek muat(winch)ada 3 yaitu
  :Derek listrik
  :Derek uap
  :Derek hidrolik
3.alat bantu bongkar muat
  :sling terpal (mengangkut muatan curah)
  :sling papan(mengangkut muatan kardus/pembungkusnya mudah rusak)
  :sling tunggal (mengangkut bal-balan,kayu,papan,gelondongan)
  :sling rantai (mengangkut kayu golondongan berat,besi2)
  :sling drum(mengangkut drum)
4.penggolongan muatan menurut sifat.
   :muatan basah                :muatan berbau
   :muatan kering                :muatan peka
   :muatan bersih                :muatan berbahaya
   :muatan kotor                 :muatan hewan
5.rencana pemuatan (stowage plan)
   -gambaran informasi mengenai rencana pengaturan muatan di atas kapal yg mana menunjukan denah,profil,jumlah muatan dan berat
6.penataan/penerangan
 7.peranginan didalam palka(ventilasi) fungsinya:
   -untuk mengontrol suhu di dalam palka
   -untuk mengontrol kelembapan udara di dalam palka
    -mencegah terjadinya kondensasi di dalam palka
   -memasukan udra bersih dan segar ke dalam palka
   -mengeluarkan udara kotor,berbau,gas beracun dr dalam palka
8.dokumen2 muatan
    -shipping order
    -resi mualim
    -manifest
    -konosemen(bill of lading)
    -delivery order dll











                                                                                                                                                                   


Minggu, 14 April 2013

LICIK NYA SUKARNO MENIPU PIMPINAN DAN BANGSA ACEH


 

SOEKARNO PENIPU LICIK MENCAPLOK ACEH KETIKA RAKYAT DAN PIMPINAN ACEH LENGAHJELAS KELIHATAN SOEKARNO PENIPU LICIK MENCAPLOK ACEH KETIKA RAKYAT DAN PIMPINAN ACEH LENGAH
"Assalamu'alaikum Wr.Wb. Kita pakai logika yg sederhana sajalah yah, para
pembaca ! logika sederhana itu adalah apakah mungkin kalau ada pencaplok
atau perampok daerah Aceh, kemudian para pemimpin Aceh malah memobilisir
Masyarakatnya utk membantu Sang Pencaplok/Perampok itu ( dalam anggapan Kang
Dirman Bung Karno cs itu ), dengan memberikan biaya utk beli 2 buah kapal
terbang utk keperluan perjuangan NKRI itu ? Apakah mungkin juga kalau Sang
Perampok/Pencaplok malah diberi uang sebesar M$.20.000.000. yg dihasilkan
dari Rakyat Aceh yg dimobilisasikan oleh para Pemimpin Aceh pada waktu itu,
utk Keperluan perjuangan negara Sang Pencaplok/Perampok pada bidang
diplomasi ?”


Karena ketika Soekarno datang ke Aceh itu disamping berjumpa dengan Teungku
Muhammad Daud Beureueh juga bertemu dengan rakyat Aceh lainnya. Ternyata
pada waktu itu peta politik di Jawa, Sumatera, Kalimantan telah berubah.

Coba kita lihat di Jawa, dimana Negara RI 17 Agustus 1945 yang dipimpin oleh
Soekarno setelah diadakan Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948 yang
hasilnya ditandatangani oleh Perdana Mentri Mr. Amir Sjarifuddin dari
Kabinet Amir Sjarifuddin, yang disaksikan oleh H.A. Salim, Dr.Leimena, Mr.
Ali Sastroamidjojo pada tanggal 17 Januari 1948. Dimana sebagian isi
perjanjian tersebut menyangkut gencatan senjata disepanjang garis Van Mook
dan pembentukan daerah-daerah kosong militer. Sehingga terlihat secara
de-jure dan de-facto kekuasaan RI hanya sekitar daerah Yogyakarta saja. (30
Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986,
hal.155,163)

Nah, itu Negara RI 17 Agustus 1945 pimpinan Soekarno hanya menguasai secara
de-facto wilayah Yogyakarta dan daerah sekitarnya. Jadi dari sini saja
kelihatan Negeri Aceh itu jauh lepas di Sumatera sana diluar wilayah
kekuasaan secara de-facto Negara RI Soekarno cs.

Kemudian, lihat di Madura. Dimana pada 23 Januari 1948 berdiri Negara Madura
dengan R.A.A. Tjakraningrat diangkat sebagai Wali Negara dan diresmikan pada
tanggal 20 Februari 1948. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949,
Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 164). Seterusnya perhatikan di Jawa Timur,
dimana pada 26 November 1948 telah berdiri Negara Jawa Timur dengan Wali
Negara R.T. Achmad Kusumonegoro. Lalu perhatikan juga, di Daerah Jawa Tengah
telah beridiri juga Pemerintah Daerah Jawa Tengah pada 2 Maret 1949. Tidak
sampai disitu saja, perhatikan juga di Tasikmalaya, Jawa Barat, Sekarmadji
Maridjan Kartosuwirjo pada tanggal 7 Agustus 1949 telah memproklamasikan
berdirinya Negara Islam Indonesia dengan S.M. Kartosuwirjo diangkat sebagai
Imam Negara Islam Indonesia.

Seterusnya kita lihat peta politik di Sumatera. Dimana perhatikan juga di Di
Sumatra Timur, pada 24 Maret 1948 berdiri Negara Sumatra Timur yang ber Ibu
Kota Medan dengan Dr. Teungku Mansyur diangkat sebagai Wali Negara. (30
Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 176) .
Tidak sampai disitu saja, perhatikan juga di Sumatera Selatan berdiri Negara
Sumatera Selatan dengan Walinegara Abdul Malik pada tanggal 30 Agustus 1948.
Kemudian, dalami juga di Kalimantan di Daerah banjar berdiri Daerah Banjar
pada 14 Januari 1948 yang dipimpin oleh M. Hanafiah. Begitu juga di daerah
Dayak besar berdiri Daerah Dayak Besar pada 7 Desember 1946 dan diakui 16
Januari 1948 yang dipimpin oleh J-van Dyk..

Selanjutnya, sebelum perjanjian Renville 17 Januari 1948 ditandatangani,
ternyata beberapa Negara dan Daerah telah berdiri sendiri. Lihat di daerah
Pasundan, tangal 4 Mei 1947 di Alun-alun Bandung, Ketua Partai Rakyat
Pasundan Soeria Kartalegawa memproklamirkan Negara Pasundan dan pada tanggal
16 Februari 1948 Negara Pasundan dinyatakan resmi berdiri dengan R.A.A.
Wiranatakusumah dipilih menjadi Wali Negara dan dilantik pada tanggal 26
April 1948. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI,
1986, hal. 140, 171).

Juga di Kalimantan Tenggara pada tanggal 9 Mei 1947 telah lahir dan berdiri
Dewan Federal Borneo Tenggara yang dipimpin oleh Abdul Gaffar Noor. Tidak
sampai disitu saja di Daerah Borneo Barat pada tanggal 12 Mei 1947 telah
lahir dan berdiri Daerah Istimewa Borneo Barat dengan Sultan Pontianak Hamid
Algadrie II diangkat sebagai Kepala Daerahnya. (30 Tahun Indonesia Merdeka,
1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 141). Begitu juga di Kalimantan
Timur berdiri pada 12 April 1947 Daerah Siak besar dan pada 4 Februari 1948
diganti nama menjadi Federasi Kalimantan Timur yang dipimpin oleh Adji
Muhammad Parikesit. Tidak ketinggalan Daerah Bangka, Daerah Belitung dan
Negara Riau membentuk konfederasi pada 12 Juli 1947 yang Kepala
Pemerintahannya dipegang oleh Masjarif gelar Lelo Bandaharo.

Tidak hanya disitu saja, tetapi ada juga negara yang didirikan sebelum
diadakan persetujuan Linggajati di Istana Rijswijk tanggal 25 Maret 1947,
yaitu Negara Timur Besar yang didirikan pada 24 Desember 1946 dan diganti
nama menjadi Negara Indonesia Timur pada 27 Desember 1946 dengan kepala
Negaranya Tjokorde Gde Rake Sukawati.

Sekarang, setelah memperhatikan peta politik di Jawa, Madura, Sumatera dan
Kalimantan, ternyata telah banyak berubah peta politik secara keseluruhan.
Beberapa Negara dan Daerah telah berdiri diluar Negara RI 17 Agustus 1945
pimpinan Soekarno.

Nah sekarang, disaat-saat Soekarno dengan Negara RI 17 Agustsu 1945-nya
sudah sedemikian terjepit dari segala arah, maka datanglah secara
sembunyi-sembunyi karena takut tertangkap musuh, masuk ke Sumatera, tetapi
tidak masuk ke Negara Sumatera Timur dan Negara Sumatera Selatan, melainkan
masuk kedalam wilayah kekuasaan Gubernur Militer Aceh dibawah pimpinan
Gubernur Militer Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Kemudian, mulailah Soekarno menjalankan tipu licik Jawa-nya. Yang pertama
ditipu adalah Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan janji Negara RI 17
Agustus 1945 yang secara de-facto memiliki wilayah kekuasaan di Yogyakarta
dan daerah sekitarnya berdasarkan hasil perjanjian Renville pada 17 Januari
1948 telah menjanjikan dan mengikrarkan dihadapan Teungku Muhammad Daud
Beureueh bahwa Negara RI akan dijadikan Negara Islam dan akan diberlakukan
Pemerintahan Islam dan Syariat Islam. Tujuan penipuan ini agar Gubernur
Militer Teungku Muhammad Daud Beureueh menyokong Negara RI 17 Agustsus 1945
pimpinan Soekarno.

Jelas, waktu itu Gubernur Militer Teungku Muhammad Daud Beureueh sudah mulai
tertipu.

Kemudian, tidak hanya Teungku Daud Beureueh yang ditipu oleh Soekarno
melainkan juga rakyat Aceh. Misalnya dalam sebuah rapat akbar di Lapangan
Blang Padang, Banda Aceh, tanggal 17 Juni 1948, Soekarno menyatakan:
"Kedatangan saya ke Aceh ini spesial untuk bertemu dengan rakyat Aceh, dan
saya mengharapkan partisipasi yang sangat besar dari rakyat Aceh untuk
menyelamatkan Republik Indonesia ini. Daerah Aceh adalah menjadi Daerah
Modal bagi Republik Indonesia, dan melalui perjuangan rakyat Aceh seluruh
wilayah Republik Indonesia dapat direbut kembali." (Kutifan yang diambil
oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono dari buku Perekat Hati yang Tercabik,
karangan M Djali Yusub).

Nah selanjutnya, Soekarno mengetahui secara pasti bahwa Negeri Aceh secara
de-jure dan de-facto berada diluar Negara RI, karena Soekarno sadar dan
mengetahui benar apa itu isi perjanjian Renville yang ditandatangani pada
tanggal 17 Januari 1948.

Kemudian, Teungku Muhammad Daud Beureueh sudah kena tipu licik Soekarno
dengan umpan Negara Islam RI-nya dan pemerintahan Islam-nya yang
memberlakukan Syariat Islam-nya. Begitu juga, rakyat Aceh sudah tertipu
dengan tipuan licik Soekarno orang Jawa ini.

Tetapi, tentu saja, walaupun Teungku Muhammad Daud Beureueh dan rakyat Aceh
sudah kena tipu Soekarno, tetapi Negeri Aceh tidak diserahkan kepada pihak
Soekarno. Hanya Soekarno meminta sokongan untuk mempertahankan kemerdekaan
RI yang sudah tergencet dari segala penjuru itu.

Walaupun rakyat dan pemimpin Negeri Aceh pada saat itu memberikan bantuan
dan sokongan kepada Soekarno bukan berarti Negeri Aceh secara otomatis dan
secara de-facto menjadi daerah wilayah kekuasaan Negara RI 17 Agustsus 1945.

Mengapa ?

Karena hal itu terbukti, ketika Negara RI pada tanggal 14 Desember 1949
masuk menjadi anggota Negara bagian RIS yang terdiri dari Negara/Daerah
bagian Negara Republik Indonesia menurut perjanjian Renville, Daerah
Istimewa Kalimantan Barat, Negara Indonesia Timur, Negara Madura, Daerah
Banjar, Bangka, Belitung, Dayak Besar, Jawa Tengah, Negara Jawa Timur,
Kalimantan Tenggara, Kalimantan Timur, Negara Pasundan, Riau, Negara Sumatra
Selatan, dan Negara Sumatra Timur. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949,
Sekretariat Negara RI, 1986, hal.243-244)

Seterusnya Kedaulatan RIS diakui oleh Belanda pada 27 Desember 1949.

Kemudian, ketika RIS dilebur dan dimasukkan kedalam tubuh Negara RI 17
Agustus 1945 dan berubah nama menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950,
Negeri Aceh yang pada waktu Negara RI 17 Agustus 1945 masuk menjadi Negara
bagian RIS tanggal 14 Desember 1949, secara de-facto dan de-jure berdiri
sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah Negara RI 17 Agustus 1945
yang menurut perjanjian Renville 17 Januari 1948 memiliki daerah kekuasaan
secara de-facto disekitar Yogyakarta dan daerah sekitarnya saja.

Jadi, ketika Negeri Aceh yang tanpa persetujuan seluruh rakyat Aceh dan
pemimpin rakyat Aceh dicaplok dan dimasukkan kedalam mulut Sumatera Utara
dengan cara menetapkan dasar hukum tanggal 14 Agustus 1950 Peraturan
Pemerintah Nomor 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi oleh
Presiden RIS Soekarno yang membagi Negara RI-Jawa-Yogya menjadi 10 daerah
propinsi yaitu, 1.Jawa - Barat, 2.Jawa - Tengah, 3.Jawa - Timur, 4.Sumatera
- Utara, 5.Sumatera - Tengah, 6.Sumatera - Selatan, 7.Kalimantan,
8.Sulawesi, 9.Maluku, 10.Sunda - Kecil apabila RIS telah dilebur menjadi
Negara RI-Jawa-Yogya. Dan menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara,
yang termasuk didalamnya wilayah daerah Aceh yang melingkungi
Kabupaten-Kabupaten 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur,
5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja masuk
kedalam lingkungan daerah otonom Propinsi Sumatera-Utara, maka berkobarlah
kemarahan Gubernur Militer Wilayah Aceh Teungku Muhammad Daud Beureueh atas
tindakan Soekarno yang dengan cara yang licik dan sepihak tanpa adanya
musyawarah, diskusi, dan persetujuan dari seluruh rakyat Aceh dan pimpinan
rakyat Aceh telah memasukkan Negeri Aceh kedalam tubuh NKRI.

Puncak dari sikap dan gerakan Teungku Muhammad Daud Beureueh atas tindakan
Soekarno mencaplok Negeri Aceh ini adalah dengan memaklumatkan Negara Islam
Indonesia di wilayah Negeri Aceh yang bebas dari pengaruh kekuasaan Negara
Pantja Sila atau Pemerintah NKRI pimpinan Soekarno yang telah menipui
Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan tipuan ”Negara Islam RI-nya”.

PAHLAWAN ACEH TGK MUHAMMAD DAUD BEUREUEH (BAPAK BANGSA ACEH)

Teungku Muhammad Daud Beureueh adalah salah satu tokoh ulama besar Aceh. Bersama ulama lain pada zamannya, beliau berjuang mengibarkan dan menegakkan panji-panji Islam di bumi Aceh. Sebagaimana yang pernah dituturkannya kepada Boyd R. Compton dalam sebuah wawancara, "Anda harus tahu, kami di Aceh ini punya sebuah impian. Kami mendambakan masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda, pada masa Aceh menjadi Negara Islam. Di zaman itu, pemerintahan memiliki dua cabang, sipil dan militer. Keduanya didirikan dan dijalankan menurut ajaran agama Islam. Pemerintahan semacam itu mampu memenuhi semua kebutuhan zaman moderen. Sekarang ini kami ingin kembali ke sistem pemerintahan semacam itu". (Boyd R. Compton, Surat-Surat Rahasia Boyd R. Compton, Jakarta: LP3ES, 1995)

Siapakah Dia?

Teungku M. Daud Beureueh dilahirkan pada 15 September 1899 di sebuah kampung bernama "Beureueh", daerah Keumangan, Kabupaten Aceh Pidie. Kampung Beureueh adalah sebuah kampung heroik Islam, sama seperti kampung Tiro. Ayahnya seorang ulama yang berpengaruh di kampungnya dan mendapat gelar dari masyarakat setempat dengan sebutan "Imeuem (imam) Beureueh". Teungku Daud Beureueh tumbuh dan besar di lingkungan religius yang sangat ketat. Ia tumbuh dalam suatu formative age yang sarat dengan nilai-nilai Islam di mana hampir saban magrib Hikayat Perang Sabil dikumandangkan di setiap meunasah (masjid kampung). Ia juga memasuki masa dewasa di bawah bayang-bayang keulamaan ayahnya yang sangat kuat mengilhami langkah hidupnya kemudian.
Orang tuanya memberi nama Muhammad Daud (dua nama Nabiyullah yang diberikan kitab Alquran dan Zabur). Dari penamaan ini sudah terlihat, sesungguhnya yang diinginkan orang tuanya adalah bila besar nanti ia mampu mengganti posisi dirinya sebagai ulama sekaligus mujahid yang siap membela Islam. Karena itu, pada masa-masa usia sekolah, ayahnya tidak memasukkan beliau ke lembaga pendidikan resmi yang dibuat Belanda seperti: Volkschool, Goverment Indlandsche School, atau HIS. Namun lebih mempercayakan kepada lembaga pendidikan yang telah lama dibangun ketika masa kerajaan Islam dahulu semodel dayah/zawiyah. Yang menjiwai ayahnya adalah semangat anti-Belanda/penjajah yang masih sangat kuat. Apalagi ketika itu Aceh masih dalam suasana perang di mana gema Hikayat Perang Sabil masih nyaring di telinga masyarakat Aceh.
Dalam pusat pendidikan semacam ini, Daud ditempa dan dididik dalam mempelajari tulis-baca huruf Arab, pengetahuan agama Islam (seperti fikih, hadis, tafsir, tasawuf, mantik, dsb), pengetahuan tentang sejarah Islam, termasuk sejarah tatanegara dalam dunia Islam di masa lalu, serta ilmu-ilmu lainnya. Dari latar belakang pendidikan yang diperolehnya ini, tidak disangsikan lagi, merupakan modal bagi keulamaannya kelak.
Sekalipun tidak mendapatkan pendidikan Belanda, namun dengan kecerdasan dan kecepatannya berpikir, beliau mampu menyerap segala ilmu yang diberikan kepadanya itu, termasuk bahasa Belanda. Kebiasaannya mengkonsumsi ikan, yang merupakan kebiasaan masyarakat Aceh, telah membuatnya menjadi quick-learner (mampu belajar cepat).
Kemampuan yang luar biasa ini, sebagian besar karena ia merasa menuntut ilmu adalah wajib. Maka belajar tentang segala sesuatu, dipersepsikannya hampir sama dengan "mendirikan shalat". Dalam usia yang sangat muda, 15 tahun, ia sudah menguasai ilmu-ilmu Islam secara mendalam dan mempraktekkannya secara konsisten. Dengan segera pula ia menjadi orator ulung, sebagai "singa podium." Ia mencapai popularitas yang cukup luas sebagai salah seorang ulama di Aceh. Karena itu, beliau mendapat gelar "Teungku di Beureueh" yang kemudian orang tidak sering lagi menyebut nama asli beliau, tetapi nama kampungnya saja. Ketenaran seorang tokoh di Aceh senantiasa melekat pada kharisma kampungnya. Kampung adalah sebuah entitas politik yang pengaruhnya ditandai dengan tokoh-tokoh perlawanan. Dari kenyataan ini, seorang yang terlahir dari sebuah entitas resisten, tidak akan pernah berhenti melawan sebelum cita-cita tercapai. Kendatipun pihak lawan menggunakan segala daya dan upaya untuk membungkam perlawanan tersebut.

Dari PUSA Menuju Darul Islam

Untuk membungkam dan memadamkan perlawanan Muslim Aceh, Belanda, atas saran Snouk Hourgronje, melakukan pengaburan konsep tauhid dan jihad. Belanda membuat aturan pelarangan berdirinya organisasi-organisasi politik Islam. Restriksi ini membuat para ulama di Aceh berang dan ingin mengadakan pembaruan perjuangan melawan penjajah Belanda. Maka atas inisiatif beberapa ulama yang dipelopori oleh Teungku Abdurrahman, dibentuk sebuah organisasi yang bernama PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) di Matang Glumpang Dua. Dalam kongres pembentukannya, dipilihlah Teungku Muhammad Daud Beureueh sebagai ketua. Aceh adalah negeri sejuta ulama, dan mengetuai organisasi politik ulama berarti juga secara de facto menjadi "Bapak Orang-Orang Aceh".
Semenjak itu, Daud Beureuh memegang peranan sangat penting di dalam pergolakan-pergolakan di Aceh, dalam mengejar cita-citanya menegakkan keadilan di bumi Allah dengan dilandasi ajaran syariat Islam. Sehingga, umat Islam dapat hidup rukun, damai dan sentosa sebagaimana yang dulu pernah diperbuat oleh raja-raja Islam sebelum mereka. Menurut catatan Compton, "M Daud Beureueh berbicara tentang sebuah Negara Islam untuk seluruh Indonesia, dan bukan cuma untuk Aceh yang merdeka. Ia meyakinkan, kemerdekaan beragama akan dijamin di negara semacam itu, dengan menekankan contoh mengenai toleransi besar bagi penganut Kristen dalam negara-negara Islam di Timur Dekat. Kaum Kristen akan diberi kebebasan dan dilindungi dalam negara Islam Indonesia, sedangkan umat Islam tidak dapat merasakan kemerdekaan sejati kalau mereka tidak hidup dalam sebuah negara yang didasarkan atas ajaran-ajaran Alquran."
Langkah awal dalam upaya itu adalah mengusir segala jenis penjajahan yang pernah dipraktekkan Belanda, Jepang, dan zaman revolusi fisik (1945-1949) pada awal kemerdekaan, maupun ketika Aceh berada di bawah kekuasaan Orde Lama Soekarno dan Orde Baru Soeharto. Sejak saat itulah, Teungku Daud Beureueh diyakini oleh orang-orang sebagai "Bapak Darul Islam".
Daud Beureueh dikenal luas sebagai Gubernur Militer Aceh selama tahun-tahun revolusi. Tetapi ketika jabatannya sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo dicabut oleh PM Mohammad Natsir, ia hidup tenang-tenang di desanya --tampaknya seperti pensiun.
Setelah Aceh masuk ke dalam Republik Indonesia Komunis (RIK) di bawah panji Pancasila, Daud Beureueh diberi jabatan Gubernur Kehormatan dan diminta menetap di Jakarta sebagai penasihat di Kementerian Dalam Negeri. Ia tidak menerima penghormatan ini. Satu-satunya tindakan pentingnya yang diketahui umum adalah pada saat ia mengetuai Musyawarah Ulama Medan, April 1951. Setelah musyawarah itu, Daud Beureueh melakukan tur singkat keliling Aceh, memberikan ceramah-ceramah provokatif bernada mendukung ide Negara Islam. Ia kemudian kembali ke desanya, dan --membuat takjub penduduk Medan yang sudah maju-- membangun sebuah tembok besar dan masjid sungguhan dengan tangannya sendiri. Daud Beureueh lebih tampak sebagai pensiunan perwira militer ketimbang sebagai ahli agama, meskipun ia menyandang gelar teungku.
Teungku Daud Beureueh adalah "Bapak Orang-Orang Aceh" yang tetap tegar meski dikecewakan oleh kaum fasiqun di Jakarta. Dengan postur tubuhnya yang kurus tapi kuat, ia adalah tipe manusia ideal. Sebagaimana dicatat oleh Compton, dari bawah pecinya, rambut kelabunya yang dipangkas pendek kontras dengan wajahnya yang muda dan coklat kemerahan. Bicaranya lugas, bahkan pernyataannya banyak yang blak-blakan. Misal: "Saya tanya, apakah pemerintahan seperti itu mampu mengatasi masalah-masalah Aceh sekarang ini? Ya, ambillah pengairan sebagai contoh. Pada zaman Iskandar Muda, dibuat saluran dari sungai yang jauhnya sebelas kilometer dari sini menuju laut. Daerah Pidie menjadi sangat makmur. Dibuat pula saluran lain tak jauh dari yang pertama, keduanya dikerjakan oleh ulama. Beda dengan ulama zaman sekarang, pemimpin-pemimpin di masa itu tak takut sarung mereka kena lumpur. Sekarang saluran-saluran itu sudah rusak, dan hasil panen padi merosot. Sebelum terjadi perang, Aceh biasa mengekspor beras untuk kebutuhan seluruh wilayah Mardhatillah Sumatera Timur. Sekarang kita mengimpor beras dari Burma".
Dalam impiannya, ia melihat sebuah Aceh yang sejahtera di bawah pimpinan kelompok ulama yang ditampilkan kembali. Di masa keemasan itu, hanya orang-orang yang benar-benar berpengetahuan yang dapat menjadi ulama. Sedangkan di zaman modern ini, hampir setiap orang dengan bermodalkan "taplak meja dililitkan di leher" bisa mengaku berhak untuk disebut ulama.
Daud Beureueh bicara dengan gelora dan kesungguhan tentang perlunya pembaruan. Setelah semua kemungkinan terbentuknya sistem politik Islam sirna dan janji-janji Soekarno akan menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam tidak pernah ditepati, maka jiwa jihad Teungku Daud Beureueh pun bergolak. Ia kemudian menjadikan Aceh sebagai "Negara Bagian Aceh-Negara Islam Indonesia" (NBA-NII) dan berjuang hingga tahun 1964 di gunung-gemunung Tanah Rencong. Soekarno, meskipun terkenal hebat di mata orang-orang Aceh, namun karena penipuannya terhadap orang Aceh, nama Soekarno identik dengan berhala yang harus ditumbangkan.
Compton bisa memahami mengapa orang-orang membandingkan Daud Beureueh dengan Soekarno yang cemerlang sebagai orator massa. Seandainya keduanya berpidato di sebuah acara yang sama, konon Soekarno akan menjadi juara kedua jika pendengarnya orang Aceh, terutama kalau sang "Singa Aceh" sudah mulai gusar dan marah.
Sementara ia terus bicara tentang pemerintahan Islam di Aceh, Compton merasa bahwa aneka kasak-kusuk yang ia bawa dari Medan menjelang Pemilu 1955 telah sangat menyesatkannya. Ketika Compton menanyakan apakah sikap ini tak mengandung semacam kontradiksi, Teungku Daud Beureueh menandaskan, sebagai sebuah negara demokrasi, Indonesia harus tunduk pada kehendak-kehendak mayoritas Muslim. Ia yakin partai-partai Islam akan menang besar dalam sebuah pemilihan umum.
Daud Beureueh melihat ada tiga kelompok di Indonesia dewasa ini: kaum komunis yang menginginkan negara Marxis-ateistik, umat Islam yang menghendaki Negara Islam, dan golongan nasionalis tertentu yang mau menghidupkan kembali Hinduisme-Jawa (Negara Pancasila). Ia cemas bahwa golongan Hindu dan Marxis sedang mengakar, tapi mereka sendiri khawatir kalau pemilihan umum diadakan, sebab mereka pasti kalah. Karena alasan ini, menurut Daud Beureueh, mereka akan berusaha habis-habisan untuk menunda-nunda pelaksanaan pemilu. Ketika itu Teungku Daud Beureueh masih berharap dengan Pemilu, namun setelah ia sendiri terjungkal oleh seorang Perdana Menteri yang merupakan output dari sistem pemilu, ia kemudian melabuhkan harapan hanya pada perjuangan fisik. Islam telah dikalahkan secara diplomatis oleh kemenangan-kemenangan Partai Islam yang tidak memberi manfaat apapun bagi asersi politik Islam.
Akibat sikapnya ini, Teungku Abu Daud Beureueh kemudian dilumpuhkan secara sistematis oleh Pemerintah Orde Baru. Ia kemudian meninggal pada tahun 1987 dalam keadaan buta --buta yang disengaja oleh Orde Baru-- dan dalam suatu prosesi pemakaman yang sangat sederhana, tanpa penghormatan yang layak dari orang-orang Aceh yang sudah terkontaminasi oleh ide-ide sekuler. R William Liddle yang sempat menghadiri upacara pemakaman Teungku Daud Beureueh menggambarkan bagaimana mengenaskannya saat-saat terakhir dan pemakaman pemimpin Aceh yang terbesar di paruh kedua abad keduapuluh. "Saya hadir di situ, antara lain, sebagai ilmuwan sosial dan politik untuk mengamati sebuah kejadian yang bersejarah, yang mungkin akan melambangkan sesuatu yang lebih besar dan penting dari upacara pemakaman biasa. Namun, --menurut penglihatan Liddle sebagai pengamat asing-- dalam kenyataannya, meninggalnya Teungku Abu Daud Beureueh adalah "meninggalnya seorang suami dan ayah yang dicintai, seorang alim yang disegani, dan seorang pemimpin masyarakat sekitar yang dihormati." Tidak lebih dari itu. Seakan-akan dan memang inilah kesimpulan Liddle waktu itu bahwa zaman kepahlawanan Teungku Abu Daud Beureueh telah berlalu, hampir tanpa bekas. Bersamaan berpulangnya "Bapak Orang-Orang Aceh", maka Aceh kemudian memasuki babak baru pembangunan dan modernisasi yang gempita di mana kemaksiatan dan sekulerisme adalah agama baru yang disambut kalangan terpelajar perkotaannya secara sangat antusias.

MEGAWATI SUKARNO PUTRI JANJI PALSU BUAT RAKYAT ACEH


“Untuk rakyat Aceh, percayalah, Cut Nyak tak akan membiarkan setetes pun darah tumpah di Tanah Rencong...” MEGAWATI

SEDIKIT sekali yang ingat tentang hari itu, 30 Juli. Padahal, bagi ureueng Aceh hari ini merupakan salah satu hari sejarah janji, janji yang tidak pernah ditepati oleh seorang mantan Presiden Megawati Soekarno Putri.

Empat belas tahun silam, 30 Juli 1999, Megawati sempat berpidato di Aceh. Di hadapan ulama dan rakyat Tanah Serambi, Megawati berujar, “Untuk rakyat Aceh, percayalah, “Cut nyak” tak akan membiarkan setetes pun darah tumpah di Tanah Rencong.”

Kalimat itu ia pekikkan di pengeras suara tatkala pidato kemenangan partainya, Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Megawati memberanikan diri melakapkan dirinya sebagai “Cut Nyak”, nama pahlawan wanita Aceh. Hal inilah yang membuat orang Aceh ketika terkesima pada sosok anak mantan Presiden Pertama Indonesia itu.

Janji tetaplah janji. Nyatanya, setelah menjadi presiden, Megawati lupa bahwa ribuan orang Aceh pernah memilih dia dan partainya. Dari Istana Negara, ia justru mengirimkan 40.000 pasukan ke Aceh dalam rangka Darurat Militer. Pengiriman itu tidak lama setelah ia dilantik jadi Presiden. Ribuan nyawa kemudian melayang dengan mudah. Aceh jadi daerah bersimbah darah.

Sudah menjadi karakter ureueng Aceh, lekas iba dan kasihan melihat orang lain, apalagi orang tersebut sampai menangis. Inilah yang dilakoni oleh Mega tatkala kampanye kemenangan PDI di Aceh 1999 lalu. Sembari mengucapkan janji tidak akan ada lagi pertumpahan darah di Tanah Rincong, Mega berbasah mata dalam suaranya yang diserakbasahkan.

Megawati yang kerap disapa “Mbak Mega” di Tanah Jawa merupakan presiden kelima Republik Indonesia. Ia menduduki kursi kepresidenan 23 Juli 2001 dan berakhir pada 20 Oktober 2004. Presiden perempuan pertama di Indonesia ini kalah dalam percaturan politik berikutnya dari Susilo Bambang Yudhoyono.

Kini, semua hari itu di hari ini hanya tinggal kenangan. Aceh tetaplah tanah seribu janji dari Republik Ibu Pertiwi. Semoga kali ini, Aceh benar-benar aman, damai seperti harapan banyak orang. Amin! [*/AtjehPost]

MENGHILANGKAN JEJAK SEJARAH ACEH

"Untuk apa Indonesia merdeka?" Sukarno menjawab: "Untuk Islam kak". Dia memanggil kakak kepada saya. Saya tanya lagi, "betulkah ini?". Jawabnya, "betul kak". Saya tanya sekali lagi, "betulkah ini?". Dia jawab, "betul kak". Saya ulangi lagi, "betulkah ini ?". (Tgk Muhammad Daud Beureu'eh)

Sepotong sejarah Republik menyangkut Aceh yang banyak dilupakan. Yaitu soal peran Aceh penyelamatan krisis fatal pada akhir tahun 1949. Bila ini dikemukakan, bukan karena ingin Aceh dipuji. Tetapi karena sejarah harus ditulis apa adanya, tidak boleh ditutup, distorted atau direkayasa.

Sejarah mesti murni untuk diwariskan kepada generasinya. Dan apa yang penulis lihat meski itu singkat, tidak terdapat dalam buku- buku sejarah RI yang diajarkan di sekolah-sekolah. Juga penulis tidak melihjat di media yang ditulis sejarawan kita, hatta oleh ahli sejarah Aceh sendiri.

Ir. Sukarno
M. Nur el-Ibrahim, menantu Tgk Muhammad Daud Beureueh, seorang Purn. ABRI, sekaligus salah seorang pelaku sejarah Aceh. Mencoba memaparkan apa yang banyak dilupakan orang. Misalnya, tentang perjuangan Tgk Muhammad Daud Beureueh (akrab disapa Abu). Beliau ulama besar, bukan saja bersaja untuk Aceh, tapi untuk republik tercinta ini.

Ia tidak saja berhasil menegmbangkan syiar Islam secara luas tapi juga menjadi pemimpin rakyat (people leader). Abu membangun "Aceh Baru" yang demokratis, bebas dari penghisapan atau penindasan manusia oleh manusia (exploitation delhomme par home).

Sedangkan bagi Republik Indonesia beliau berjasa sebagai penyelamat. Sejarah itu yang tak tertulis di buku-buku sejarah sekolah mana pun. Kecuali beliau diklaim sebagai pemerontak Republik hingga akhir hayatnya. Begitu juga dua pejuang penyalamat lainnya, yaitu Mr Sjafruddin Prawiranegara, Kepala Pemerintah Darurat Republik Indonesia dan LN Palar, Duta Besar Indonesia di PBB.

Sekilas tentang sejarah, bahwa pada akhir tahun 1949, RI ditimpa kritis yang fatal. Hampir seluruh wilayah sudah diduduki Belanda. lbukota Republik pun sudah dikuasainya. Presiden dan wakil Presiden sudah ditangkap Belanda dan dibuang --kalau saya tidak salah dibuang ke Pulau Bangka.

Mr Sjafruddin Prawiranegara yang sempat diangkat sebagai Kepala Pemerintah Republik Indonesia, bergegas-gegas mengungsi ke Bukit Tinggi. Karena merasa tidak aman di Bukit Tinggi, beliau mengungsi ke Aceh, sebuah wilayah Republik yang belum dapat diduduki oleh Belanda. Jadi, masih tetap sebagai territory legal dari Republik Indonesia. Mengikuti Pak Sjafruddin Prawiranegara Tinggi dari ketiga Angkatan pun mengungsi ke Aceh. Dari Staff Angkatan Darat Kol Hidayat, dari staff Angkatan Udara Suyoso, dan dari Staff Angkatan Laut Komodor Subiyakto. Pada kali pertama pemimpin-pemimpin Aceh yang terdiri dari Abu Beureueh, Tgk Abdul Wahab Seulimum, Hasan Ali dan M. Nur El Ibrahimy sendiri berkunjung kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara.

Pertama-tama yang dituntut adalah membentuk Propinsi Aceh, yang dijanjikan oleh Presiden Soekarno. Di depan Abu Beureueh pada waktu beliau datang ke Aceh pada tahun 1947, Soekarno bersumpah dua kali, ternyata dua tahun ditunggu, janji itu tidak dipenuhi.

Saat itu Pak Sjaf (panggilan Syafruddin) menjawab "jangan khawatir, dalam dua tiga hari ini, Propinsi Aceh akan saya bentuk, seperti yang diinginkan oleh rakyat Aceh. Seperti yang dijanjikan", Propinsi Aceh pun terbentuklah dengan PP Pengganti Undang-undang yang mulai berlaku pada tanggal 8 Desember 1949. Sebagai Gubernur Aceh yang Pertama diangkat Abu Beureueh. Beliau dibantu oleh sebuah badan yang disebut Badan Pemerintah Provinsi Aceh, yang terdiri dari T M Amien, Orang Kaya Salamuddin, A.R. Hasjim dan Saya sendiri.

Di seluruh Aceh rakyat bergembira karena keinginannya yang sejak lama tercapai, dan terbentuknya Provinsi Aceh, gampanglah bagi Jendral Mayor Tituler, Mantan Gubernur Militer Aceh, langkat dan tanah Karo Abu beureueh Sebagai Gubernur Areh sekarang untuk mengajak rakyat berjuang mati-matian mempertahankan Aceh jangan sampai dapat diduduki Belanda. Sebab kalau Aceh dapat diduduki Belanda, berarti tamatlah riwayat Republik Indonesia.

Untuk dimaklumi bahwa pertarungan yang sengit antara Aceh dan Belanda berpusat di perbatasan Aceh-Sumatera Utara (dikenal Medan Area). Yang dipertahankan dengat gigih oleh rakyat Aceh bersama TNI Devisi X Aceh, Barisan- Barisan mujahidin yang ketuanya Abu Beureueh, TP (Tentara Pelajar) dan TPI (Tentara Pelajar Islam). Maka berkat pimpinan yang solid dari Abu Beureueh pertahanan rakyat Aceh begkitu gigih, dan Medan Area tak bisa ditembusi tentara Belanda. Penjajah akhirnya kembali ke baraknya di kota Medan. Maka Republik Indonesia yang berada sekarat hidup kembali.

Semangat juang rakyat Aceh yang gigih diketahui LN Palar, Duta Besar RI di PBB yang sebelumnya sudah loyo, menjadi bangkit kembali. Beliau segera meminta PBB untuk memerintahkan kembali kedaulatan atas seluruh territory Republik Indonesia dikembalikan kepada pemerintah Indonesia Serikat, pada 17 Agustus 1950. Sayang sekali pada hari upacara penyerahan kembali kedaulatan atas RI kepada Pemerintah Indonesia oleh Belanda, Jendral Mayor Tituler Abu Daud yang saya anggap salah seorang penyelamat Republik Indoensia tidak diundang ke upacara tersebut.

Perlu dijelaskan bahwa sebelum penyerahan kedaulatan, di Aceh terjadi heboh besar, karena dibubarkan Propinsi Aceh. Heboh ni yang tadinya terjadi di Kota Raja (Banda Aceh sekarang) meluas sampai ke seluruh Aceh. Maka dilayangkanlah poster-poster dan Resolusi- resolusi kepada pemerintah. Heboh ini tidak dapat diatasi hingga terpaksalah pembesar-pembesar Negara dari pusat datang ke Aceh untuk menyenangkan rakyat, antara lain Mr Assaat (Mendagri)--namun rakyat tidak lagi mendengarkannya. Maka Bung Hatta yang kembali menjadi Wakil Presiden Negara Kesatuan NRI datang ke Aceh. Rakyat juga tidak menghiraukan apa yang dikatakannya.

Abu Beureueh Mantan Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo, dan mantan Gubernur Aceh, menyatakan dengan tegas " Bahwa kalau Provinsi Aceh tidak dibentuk kembali, saya akan naik ke Gunung untuk membentuk Provinsi Aceh menurut keinginan kami sendiri". Zaini Bakri, Bupati Aceh Besar juga dengan tegas mengatakan kalau provinsi Aceh tidak kembali dibentuk pegawai RI di seluruh Aceh meletakan jabatan.

Tgk. Daud Beureueh
Karena rakyat tidak bisa ditenangkan, Muhammad Natsir (Perdana Menteri Kabinet pertama NRI datang ke Aceh). Beliau mula - mula mengatakan pertemuan dengan petinggi - petinggi Aceh, kemudian melalui radio. Ia mengajak rakyat supaya tenang dan tidak khawatir. Beliau akan berusaha sekuat tenaga akan terbentuk kembali Propinsi Aceh. "Secara Intergral", artinya membentuk Propinsi di seluruh Indonesia. Betul-betul Natsir telah mengubah situasi yang panas menjadi suasana yang sejuk sehingga rakyat di seluruh Aceh tenang kembali, dan dengan penuh kepercayaan menunggu janji Perdana Menteri Pertama Natsir itu.

Sayang kabinet Natsir setelah kira-kira satu tahun bekerja, dijatuhkan oleh anggota - anggota DPR yang tidak menyetujui Provinsi Aceh yaitu PKI, PNI, Partai Indonesia Raya dan beberapa partai lainnya. Harapan rakyat Aceh untuk tegaknya sebuah Provinsi seperti yang diinginkan di tanah Rencong buyarlah semua. Provinsi Aceh baru dibentuk kembali setelah Abu Beureueh "naik gunung" (sebagai yang ditegaskan di depan Bung Hatta), beberapa waktu setelah jatuhnya Kabinet Ali Sastroamidjojo ( dari PNI) yang menggantikan Kabinet Natsir.

Saat berkunjung ke Aceh pada tahun 1948, Soekarno mengucapkan janjinya dengan meyakinkan Daud Beureueh. Dimana cerita sumpah Soekarno dihadapan Teungku Muhammad Daud Beureueh itu adalah:

"Teungku Daud Beureueh pernah menyatakan: "Lebih setahun sesudah proklamasi kemerdekaan, pada waktu tentara Belanda dan Sekutu sedang melancarkan serangan secara besar-besaran, dimana para pemuda kita sudah ribuan bergelimpangan gugur di medan perang, datanglah Sukarno ke Aceh...Dia datang menjumpai saya menerangkan peristiwa-peristiwa dan perkembangan revolusi."


Dalam pertemuan itu saya tanya Sukarno: 

"Untuk apa Indonesia merdeka?" Sukarno menjawab: "Untuk Islam kak". Dia memanggil kakak kepada saya. 

Saya tanya lagi, "betulkah ini?". Jawabnya, "betul kak". 

Saya tanya sekali lagi, "betulkah ini?". Dia jawab, "betul kak". 

Saya ulangi lagi, "betulkah ini?".

Pada waktu inilah Sukarno berikrar: "Kakak! Saya adalah seorang Islam. Sekarang kebetulan ditakdirkan Tuhan menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama yang baru kita proklamasikan. Sebagai seorang Islam, saya berjanji dan berikrar bahwa saya sebagai seorang presiden akan menjadikan Republik Indonesia yang merdeka sebagai negara Islam dimana hukum dan pemerintahan Islam terlaksana. Saya mohon kepada kakak, demi untuk Islam, demi untuk bangsa kita seluruhnya, marilah kita kerahkan seluruh kekuatan kita untuk mempertahankan kemerdekaan ini".

(Baca: S.S. Djuangga Batubara, Buku; Teungku Tjhik Muhammad Dawud di Beureueh Mujahid Teragung di Nusantara, Gerakan Perjuangan & Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, cetakan pertama, 1987, hal. 76-77)

Ternyata akhirnya, ikrar Soekarno itu untuk: "akan menjadikan Republik Indonesia yang merdeka sebagai negara Islam dimana hukum dan pemerintahan Islam terlaksana" hanyalah tipu muslihat saja. Sehingga Teungku Muhammad Dawud Beureueh di Aceh memaklumatkan Negara Islam Indonesia pada tanggal 20 September 1953, yang sebagian isinya menyatakan bahwa;

"Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam."

***

Sumber Referensi : 
  • Teungku Chik Muhammad Daud di Beureueh Mujahid Teragung di Nusantara, Gerakan Perjuangan & Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, S.S Djuangga Batubara.
  • Disadur dari berbagai sumber dan fakta sejarah.

MASALAH ACEH BUKAN MASALAH NASIONAL TAPI MASALAH INTERNASIONAL

Internasional Siap Bantu Aceh, RI Harus Hargai UUPA dan MoU Helsinky ungkP Jhon Kileer

Masalah Aceh bukanlah masalah nasional lagi, tapi masalah Aceh adalah masalah international, kami pihak CMI mempertanggung jawabkan atas perdamaian GAM dan RI. “ Ujar Ketua CMI (Crisis Management Initiave) Muhammed Jhon Kileer

 Finlandia | e-berita.net - Ketua CMI (Crisis Management Initiave) Muhammed Jhon Kileer mengatakan pihaknya baru saja mengetahui ada permasalahan antara Aceh dan Ri, dia mengatakan selaku ketua CMI dia berhak untuk memanggil kedua belah pihak untuk duduk kembali untuk menyelesaikan apa yang di permasalahkan antara Aceh dan Ri saat ini. Masalah Aceh bukanlah masalah nasional lagi, tapi masalah Aceh adalah masalah international, kami pihak CMI mempertanggung jawabkan atas perdamaian GAM dan RI, oleh karena itu saya menghimbakan pada RI dan Aceh agar selalu beritahukan kami kalau ada hal hal yang keliru dengan perdamaian yg hampir berumur 8 tahun ini, ungkapnya.
Muhammed mengatakan pihaknya akan bertolak ke Aceh dalam waktu dekat ini untuk duduk bersama membahas masalah yang sedang melilit Aceh dan RI saat ini. Jika masalah Aceh tidak membuah hasil setelah kita duduk bersama dalam rangka mencari win win solution untuk kepentingan rakyat maka masalah ini mesti kita seret ke badan hukum International, jelasnya.
Muhammed juga mengingatkan pemerintah RI untuk menghargai MoU dan UUPA sebagai mana yang telah di sepakati di dalam rapat COSA 2006 yang lalu, dan indonesia juga harus menghargai jasa kami (CMI) dan GAM yg telah mau untuk mengakhiri perang senjata dengan dengan perdamaian dengan pemerintah RI, dan RI mesti menyadari sesungguhnya perdamaian Aceh terjadi bukan karna UU atau PP yang ada di indonesia akan tetapi perdamaian Aceh karena adanya MoU
Helsinki, oleh sebab itu setiap permasalahan Aceh yang bersangkutan dengan RI maupun sebaliknya mesti perpegangan dan berpedoman pada MoU agar perdamaian Aceh abadi. Jika RI mementingkan UU atau PP indonesia maka perdamaian Aceh takkan bertahan lama, tambahnya sembari mengakiri pembicaraannya.
Dia juga menitip salam untuk rakyat Aceh, pu haba, rakyat Aceh pu kalheuh bu dengan Aceh yg kental dengan logat kebarat-baratan.

Senin, 08 April 2013

TANGISAN PELAUT


Tahukah engkau kaum Perempuan, bahwa kaum Pria ( Suami ) sesungguhnya jauh lebih sering MENANGIS.. daripada WANITA ( Istri ) , Namun mereka menyembunyikan tangisnya di dalam kekuatan akalnya ...


Itulah mengapa Tuhan menyebutkan pada pria terdapat 2x lipat akal seorang wanita. Dan itulah sebabnya mengapa tiada yg kau lihat melainkan ketegarannya ...

Laki-laki menangis karena tanggung jawabnya di hadapan Tuhannya. Dia menjad
i tonggak penyangga dalam rumah tangga. Menjadi pengawal Tuhan bagi Sang Ibu, saudara-saudara perempuannya, istri & anak-anaknya ...

Makanya,...
tangisnya pun tidak pernah nampak di bening matanya ..
Tangis pria adalah pada keringat yg bercucuran demi menafkahi keluarganya ...

Tidak bisa engkau lihat tangisnya pada keluh kesah di lisannya. Pria "menangis" dalam letih & lelahnya menjaga keluarganya dari kelaparan ...

Tidak dapat engkau dengar tangisnya pada omelan-omelan di bibirnya. Pria menangis dalam tegak & teguhnya dalam melindungi keluarganya dari terik matahari, deras hujan serta dinginnya angin malam ...

Tidak nampak tangisnya pada peristiwa kecil & sepele ..
Pria menangis dalam kemarahannya, bila kehormatan diri & keluarganya terancam ...

Pria menangis dengan sigap bangunnya di kegelapan dini hari ..
Pria menangis dengan bercucuran peluhnya dalam menjemput rejeki ..

Pria menangis dengan menjaga serta melindungi orang tua, anak & istri ...

Pria menangis dengan tenaga dan darahnya menjadi benteng bagi agamanya ...

Namun ...
Pria pun sungguh-sungguh menangis dengan air matanya di kesendiriannya, jauh dari anak & istri, jauh dari Orang tua & Kerabatnya.

Karena seorang Pria ( Suami ) menyadari tanggungjawabnya yg besar di hadapan Tuhannya ...

Pandanglah Begitu tegar Bapak kita.....
Pandanglah Begitu tegar sang Suami .....
Sesungguhnya syurga Allah berada di dlm keridha'an mereka ...

Minggu, 31 Maret 2013

SUKARNO DI MATA ORANG ACEH

Dan ketika orang aceh mengatakan jawa penjajah tidaklah bermakna semuanya orang jawa, namun sebagai manusia kita sering mengkultuskan sesuatu karena kesan pertamanya.
Orang aceh kenal orang Jawa ya Sukarno, Sukarno di mata orang Jawa adalah sosok manusia tangguh dengan kelebihan – kelebihan yang dia miliki, sukarno adalah sosok manusia agung dan kuburannya pun kerap di keramatkan oleh sebagian orang di Pulau jawa, namun bagaimana Sukarno dimata kakek2 kami orang Aceh ?
Sukarno itu hanya penipu, penjahat, air mata buaya, pengemis dll.
pasti kakek2 Aceh yang pernah dekat dengan sukarno punya alasan tersendiri ketika mereka mencap sukarno seperti itu. Penipu karena membohongi dan mengebiri orang aceh dan tanah aceh yang sudah melahirkan indonesia, penjahat karena berani menipu, hal yang tak seharusnya di lakukan oleh orang terpandang dan terhormat, hal yang tidak mungkin di lakukan oleh kakek2 Aceh yang islamnya kuat. Air mata buaya, sukarno pandai memperliahatkan mimik kesedihan waktu meminta Rakyat Aceh menyumbang 4 pesat untuk indonesia, barang super mewah di jamannya yang sangat mustahil bisa di beli orang jawa bahkan sampai sekarang ini, SBY masih menggunakan pesawat carteran, baru di usulakan membeli pesawat kepresidenan berbulan – bulan di protes dan di demo di jawa sana ingat ! baru 1 pesawat, tapi kakek Aceh menyumbang 4 peasawat sekaligus dalam rentang waktu yang tidak lama, kakek aceh rela menyumbang untuk bangsa yang belakangan menjadi pembantai anak cucunya, pemerkosa para cucu – cucu perempuannya, Pembuat Janda anak-anak Perempuannya, lewat Serdadu – serdadu Kujangnya, Kopassus, Kostrad kiriman pemerintah jawakarta mereka lebih sadis dari tentara israel yang membunuh anak2 dan perempuan palestina.
Kebohongan kerajaan Jawa yang paling besar adalah fakta kemerdekaan indonesia ini sendiri, tidak pernah ada dalam buku sejarah manapun yang tulis orang jawa yang mengisahkan Aceh sebagai “the frontal for indonesia freedom”, seolah indonesia merdeka karena Jendral Sudirman dan pahlawan 1o november di surabaya, seolah indonesia merdeka karena seranga Fajarnya suharto di jogja, seolah hanya karena bandung lautan api, tak pernah di tuliskan bahwa pada Agresi belanda ke ll 1948, indonesia sudah takluk, tak ada lagi indonesia..... indonesia sudah jadi negara hayalan... punah.. munsnah.....
Hanya Aceh satu satunya...... satu – satunya daerah yang tidak di jajah Belanda lagi, Belanda mengakui Aceh berdaulat, sebagai kerajaan yang sah dan memiliki Raja dan Kerajaan, namun kakek Aceh terlalu baik, ketika PBB mempertanyakan apakah masih ada wialayh indonesia yang tidak di kuasai belanda lagi sebagai syarat perundingan ??
status aceh di pertanyakan, apakah aceh berdiri sendiri atau bergabung dalam wilayah indonesia ?? Belanda tidak lagi masuk aceh tahun 1948 karena mereka mengakui Aceh bukan indonesia, Sukarno – Hatta lewat Syarifudin Prawira Negara melakukan komunikasi dengan Abu Daud, sayangnya Abu terlalu baik, sehingga Abu memutuskan dengan berkonsultasi dengan beberapa orang yang dipercayainya tanpa melibatkan pejuang dan Rakyat Aceh secara keseluruhan untuk mengatakan Aceh bagian indonesia, padahal ini adalah keputusan yang salah dan menjadi bibit sakit hati Rakyat Aceh kepada Abu sampai hari ini. Ternyata karena keptusan yang salah inilah sehingga setiap generasi berganti Aceh selalu menuntut kedaulatannnya yang sudah di berikan Cuma-Cuma minta di hargai oleh pemerintah jawakarta.
andaikan saja............. oh andaikan, ketika itu abu daud mengatakan Aceh berdiri sendiri dan “indonesia say hello good bye” maka tak ada lagi yang namanya NKRI, Indonesia, tidak ada kopassus yang datang membantai cucu Aceh, membuat kuburan massal pembantaian, the killing field, tak ada bukit TengKorak, tak ada kampung janda di Ulee Gle Pidie Jaya. Ini adalah luka sejarah yang tidak pernah kunjung terobati oleh silih bergantinya kekuasaan di pulau jawa.
Lihatlah ! betapa besar pengorbanan kakek Aceh, maka wajar jika sampai hari ini orang Aceh men cap suku jawa sebagai penjajah, semuanya karena kesan yang di perlihatkan oleh sukarno DAN peimimpin2nya sampai hari ini dalam memndang Aceh.
bagi mereka Aceh hanya suku pemberontak, padahal yang sebenarnya mereka lupa diri, tidak tahu malu dan melupakan sejarah.
Ini hanya secuil kisah pengkhianatan indonesia yang di kuasai orang jawa terhadap orang dan tanah aceh

ACEH SELALU DI TIPU OLEH PEJABAT DI JAKARTA

Kontroversial pengesahan Qanun Bendera dan Lambang Aceh kian santer terdengar. Lambang dan Bendera sebagai Indentitas Aceh yang telah disetujui dan termaktub di dalam MoU Helsinki terancam dianulir Pusat. Untuk kesekian kalinya, Akankan Aceh Tertipu kembali?

PERCAYA atau tidak, sejak dulu Aceh atau orang Aceh cukup dikenal dengan tipu muslihat atau taktik untuk mewujudkan sebuah tujuan, baik tujuan politik perperangan demi perjuangan melawan kolonialisme. Bahkan Belanda mengakui akan kehebatan orang Aceh dalam hal ini. Salah satu cerita yang paling termasyhur adalah ketika masa penjajahan, pejuang Aceh bernama Teuku Umar berhasil menipu kolonial Belanda.

Awalnya ia bersedia berunding dengan bekerja sama membantu menaklukkan perlawanan masyarakat Aceh. Tapi akhirnya Belanda malah dikelabui oleh suami Tjoet Nyak Dien ini. Ratusan pucuk senjata berhasil dicuri dan digunakan kembali untuk melawan Belanda.
Selain cerita tersebut, sebenarnya masih banyak tipu-tipu masyarakat Aceh yang ternukil dalam sejumlah hikayat. Menurut sejumlah kalangan, “tipu Aceh” ini dapat diartikan sebagai “tipu” untuk kepentingan pribadi, di sisi lain cara tersebut juga merupakan “taktik” untuk mencapai sebuah tujuan politis dan perjuangan membela bangsa Aceh melawan segala bentuk kolonialisme.
Meski tipu-tipu Aceh ini sangat dikenal bahkan sempat menjadi bagian dari catatan seorang pengarang asal Jawa Barat dalam buku berjudul “Aceh di Mata Urang Sunda”, nyatanya di balik itu sejak masa kemerdekaan hingga kini, Aceh lah yang selalu tertipu atau dibohongi oleh pemerintah Pusat Jakarta. Situasi ini mulai terlihat sejak masa kepemimpinan Presiden Soekarno.

Sejak itu Aceh mulai tertipu dengan janji-janji semu. Pada masa pemerintahan selanjutnya bahkan lebih parah dari sekadar ditipu, Aceh bahkan “dibungkam”. Mirisnya hingga kini Aceh masih saja tertipu. Faktanya, ketika Pemerintah Republik Indonesia dan GAM menandatangani MoU Helsinki, sejumlah poin MoU tersebut (termasuk Bendera dan Lambang Aceh) belum sepenuhnya dijalankan oleh pemerintah pusat hingga hari ini.
Dengan segudang alasan, Aceh harus tetap menunggu sejumlah poin MoU untuk direalisasikan. Bahkan baru-baru ini, Aceh kembali hampir tertipu ketika Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) kawasan bebas Sabang--yang cukup lama dinanti--dianulir oleh Kementerian Keuangan. Beberapa pasal yang telah disepakati, kembali dianulir oleh Menteri Keuangan, dengan alasan ada kesalahan ‘komunikasi” di jajarannya. Kesalahan seperti apa? Wallahu’alam.
Untung saja saat itu Wakil Gubernur Aceh segera menyampaikan hal tersebut kepada Presiden SBY dalam sebuah momen Pramuka di Jakarta. Jika tidak, aturan tersebut dapat menjadi tipu Jakarta berikutnya. Itu sebabnya reaksi keras datang. Aceh tentu tak ingin tertipu lagi, sebab dulu pelabuhan bebas juga sempat dihentikan oleh Presiden Soeharto dengan sebab-musabab yang kecil, misalnya disebut maraknya penyeludupan.
Menurut Sejarawan Aceh, Drs Rusdi Sufi, berdasarkan sejarah Aceh, di balik tipu-tipu Aceh, cukup banyak tipu-tipu Jakarta terhadap Aceh. Berdasarkan pengalaman tersebut, ke depan para pemimpin maupun generasi Aceh harus berhati-hati dan jangan mudah terbuai dengan janji semu Jakarta. Intinya, masyarakat harus tetap bersatu agar tidak mudah dikelabui pihak Jakarta (pemerintah Pusat).
Sementara menurut Pemerhati Sejarah Aceh, Ramli A Dally, teknik tipu yang dilancarkan Jakarta terhadap Aceh hingga saat ini bisa saja telah di-setting dan menjadi bagian dari teori kekuasaan. Dengan kata lain, Aceh sejak dulu dijadikan kawasan tertentu (cadangan kekuasaan) untuk mencapai sebuah tujuan. Diibaratkan sebuah ular, katanya, meski kepalanya dilepas, namun ekornya tetap dipegang bahkan diikat dengan kuat. Untuk itu masyarakt Aceh harus tetap waspada terhadap tipu-tipu Jakarta.

Berdasarkan sejumlah sumber yang diperoleh dari Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, banyak catatan tentang perlakuan Pusat terhadap Aceh yang cukup memiriskan hati dan menyebabkan masyarakat Aceh dirugikan. Penipuan terhadap Aceh sebenarnya telah terjadi sejak zaman kemerdekaan atau masa revolusi kemerdekaan.
Dulu pada tahun 1948, saat masa revolusi kemerdekaan atau setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, seluruh kawasan Indonesia kembali diduduki oleh Belanda, kecuali Aceh. Awalnya, setelah Belanda menyerah kepada sekutu, pada September tahun 1948 tentera sekutu masuk ke Indonesia untuk menerima penyerahan Jepang kepada Indonesia. Namun saat itu penguasa sipil Belanda yakni NICA (Nederlandsch Indie Civil Administratie) menyusup masuk dan kembali menduduki Indonesia. Bahkan Presiden Soekarno ditangkap saat itu. Satu-satu kawasan yang tidak dimasuki Belanda adalah Aceh.

Saat itulah petinggi-petinggi RI datang ke Aceh yang tetap aman. Bahkan uang Indonesia (Oeang Republik Indonesia) pernah dicetak di Aceh. Selanjutnya pada 7 Mei 1949, ditandatanganilah kesepakatan yang dinamakan Perjanjian Rum-Royen. Berdasarkan perjanjian tersebut, tahanan politik dibebaskan, Belanda menyetujui adanya Republik Indonesia sebagai bagian dari Republik Indonesi Serikat, selanjutnya akan diselenggarakan Konfrensi Meja Bundar antara Belanda dengan Indonesia setelah Pemerintah Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta. Saat itulah Soekarno dibebaskan. Setelah dibebaskan, ia datang ke Aceh bersama sejumlah rombongan.
Kedatangannya ke Aceh melalui lapangan terbang di Lhoknga disambut sangat meriah oleh masyarakat. Selanjutnya diadakan pertemuan dengan para tokoh dan saudagar Aceh di Hotel Aceh yang kini hanya tinggal tapaknya saja, yakni kawasan samping Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Saat itu Aceh merupakan sebuah Keresidenan Aceh yang dipimpin oleh T. Daudsyah setelah menggantikan T. Nyak Arif. Soekarno juga bertemu dengan Daud Beureueh yang merupakan Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo.
Kala itu Daud Beureueh meminta agar khusus kawasan Aceh diberlakuan syariat Islam. Soekarno menyetujuinya. Aceh menyatakan setia kepada republik, namun Daud meminta agar kesepakatan tersebut dapat berbentuk hitam di atas putih (tertulus). Namun hal itu tak pernah terjadi. Soekarno dengan berlinang air mata bahkan bersumpah akan mewujudkan hal itu. Dia mengaku tak perlu bukti tertulis karena Daud Beureueh merupakan orang yang dihormatinya sehingga tak mungkin dikhianati. “Itulah tipu pertama yang terjadi terhadap Aceh. Presiden saat itu tak bersedia membuat perjanjian tertulis,”  kata Sejarawan Rusdi Sufi.